Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

Menambal Tikar dengan Kue Ketan


É ... mantèné teko ,  é ... bèbèrno kloso
É ... klosoné bedhah , é ... tambalen jadah
É ... jadhahé mambu,  é ... pakakno asu
É ... asuné mati, é ... buwak nang kali
É ... kaliné banjir , é ... buwak ning pinggir
....................................

(Pengantinnya datang, hamparkan tikar
Tikarnya koyak, tambal saja dengan kue ketan
Kue ketannya basi, berikan saja pada anjing
Anjingnya mati, buang saja ke kali
Kalinya banjir, buang saja ke pinggir)
______________________________

Lagu ini (jika boleh dibilang lagu) paling seru kalau dinyanyikan sambil menghentak atau memukul-mukul sesuatu, terutama bangku sekolah ...tentunya ketika guru sedang tidak hadir ;-).

Terbayang dalam kenangan, segerombol anak laki-laki (tentu anak-anak di tahun 70 - 80 an ;-)) menarik perhatian orang dengan mendendangkan lagu tersebut, entah ketika sedang berjalan bareng menuju sebuah tempat, atau bahkan di saat berbaris dan berkostum aneh dalam pawai Tujuh Belas Agustus. Kami anak perempuan biasanya cukup puas dengan ikut meneriakkan ééé nya saja. Seolah lengkingan bersama-sama itu memberikan semacam keberanian ekstra untuk berkata pada dunia: "INILAH KAMI !"

Sesungguhnya aku tidak yakin apakah ini merupakan semacam lagu.
Ini mungkin sejenis 'puisi jalanan' (kalau boleh disebut puisi) yang diciptakan entah oleh siapa.
Ya, pada masa itu hak cipta memang belum dikenal. Tapi sungguh merupakan godaan yang menarik untuk memikirkan siapa yang memulainya.

Kalau imajinasiku boleh berperan di sini, barangkali proses pembuatan puisi tersebut diawali oleh sekelompok pemuda yang sedang ronda malam, dan sedang dilanda keisengan untuk mengusik salah satu di antara mereka yang baru menjadi pengantin.
"É ... mantèné teko ,  é ... bèbèrno kloso", seorang dari mereka memulai.
(Ai... datang juga pengantinnya, ayo kita hamparkan tikar untuknya)

Saat itu suasananya pasti riuh sekali, lebih-lebih sang pengantin yang datang membawakan oleh-oleh jadah (kue ketan) itu tak ingin 'mati langkah'. Jadi si pengantin baru lalu melanjutkan puisi dadakan itu dengan meledek tikar yang dibicarakan, yang lucunya koyak di sana-sini.

"É ... klosoné bedhah", kata si pengantin.
"É... tambalen jadah", balas seorang rekannya sambil memungut sebuah kue ketan.
(Ai ...tikarnya koyak, tambal saja dengan jadah)

Barangkali saat itu mereka cukup bangga dengan irama serasi yang mereka temukan. Jadi pada hari berikutnya, keisengan yang memuaskan itu dilanjutkan, sehingga puisi itu kita kenal lengkap dalam versi yang membawa-bawa anjing mati dan sungai banjir segala.

Yah, sayangnya imajinasiku terpaksa harus berakhir di sini, teman. Selain tak ada kejelasan, susah diteruskan, juga tak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi kurasa aku akan berhenti memikirkan siapa penciptanya. Karena ada yang jauh lebih penting untuk diketahui, yaitu ... siapa penggunanya ? Dan mengapa ?

..............................................................


Sempat terlintas di pikiranku, bagaimana kalau ternyata selama ini kita adalah pengguna puisi iseng tersebut, teman ?

Kita memang tidak lagi menyanyikannya, karena kita tahu cara yang lebih efektif untuk menyatakan : "INILAH AKU". Namun dengan cara yang lain, kita menyanyikannya juga.

Kitalah yang suka 'menambal-sulam tikar koyak dengan kue ketan", bukannya mengganti dengan tikar baru.

Kitalah yang memberi makan 'anjing peliharaan' yang berada di bawah tanggung jawab kita dengan makanan yang bahkan kitapun tak sudi memakannya. (Duh, menganggap orang kecil sebagai anjing saja sudah keterlaluan, apalagi memberinya makanan atau solusi basi ...)

Kita juga 'membuang anjing mati ke sungai' dalam banyak level , baik dalam arti sebenarnya maupun simbolik. Dalam arti sebenarnya, jelas sekali bahwa selama ini sungai memang menjadi tempat sampah kita.  Dalam level yang berbeda, membuang anjing mati ke sungai berarti menyerahkan urusan hukum alam yang satu pada hukum alam yang lain , misalnya kerusakan hutan yang dibiarkan menjadi kerusakan ekologis yang berkepanjangan.

Baiklah, salahkan saja para pemuda imajinerku yang sedang ronda malam itu. Terutama salahkan dulu si pengantin yang membawa jadah itu ...;-)  Merekalah penggagas kebodohan ini. Barangkali saja melanjutkan pola lama untuk menyalahkan generasi masa lalu itu memang menenangkan dan bisa ...euh...menghapus malu.
Persoalannya, di mana mereka yang kita perlukan untuk disalahkan itu sekarang ?

Yah, sayangnya (atau untungnya ?), jalan cerita ini sekarang sepenuhnya di tangan kita, saudara-saudara.

Dulu kita main-main menyanyikannya, tapi sangat serius ketika hati meneriakkan: "INILAH AKU !".

Dulu mereka mungkin pernah memulainya. Tapi kita yang telah menjadikan apa-apa yang tak jelas, bahkan yang salah itu sebagai budaya. Kita tahu bahwa budaya adalah sikap dan tindakan yang dilangsungkan secara kolektif.

Kita paham bahwa budaya atau shared belief  ini -walaupun tak sepenuhnya kita sadari- justru paling lantang menyuarakan: "INILAH KITA".

Sayangnya -lagi-, diri yang kita teriakkan dengan lantang tanpa self-awareness itu tidak akan membuat kita bangga. Karena ketika kita melanjutkan aktivitas 'menambal tikar koyak dengan kue ketan' itu sebagai budaya, artinya kita setuju pada berbagai hal yang dulu berasal dari keisengan yang tak sempat dipikirkan masak-masak itu.

Pada saat yang sama, kita juga setuju bahwa identitas kolektif kita berasal dari sebuah kecelakaan sejarah belaka ...


(diilhami oleh diskusi dengan Prof. Sutiman Bambang Sumitro, suatu hari di Malang, tahun 1998 an)

Pengantin jawa berbusana dodot.
picture source: http://archive.kaskus.us/thread/2229293/40

Kamis, 03 Februari 2011

Buaya dan Gayus Juga Ada Pelindungnya ...



Hari ini tahun kelinci sudah dimulai, saudara-saudara. Dan seperti biasa, sebuah permulaan selalu membuatku terkenang pada ...sebuah akhir.

Adalah Edward dan Carter (diperankan oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman), dua orang sahabat yang disatukan oleh kanker dan kematian yang makin mendekat.  Alih-alih menyerah pada kesakitan dan ketakberdayaan, mereka sepakat untuk membuat daftar tentang 'things to do before you die' dan bertekad untuk mewujudkannya. Dalam bucket list*)  mereka itu tercatat terjun payung, bersafari di Afrika, mendaki Himalaya, kebut-kebutan ala pembalap muda, juga ...mencium gadis tercantik di dunia. Percayalah, tak perlu ada gadis-gadis berbikini untuk menyegarkan film ini, karena aksi dua sahabat penyakitan yang sudah kakek-kakek itu cukup memikat, berkat daya hidup, pertengkaran sengit dan 'humor asam-manis' yang terserak di sana-sini.

Well, jadi apa yang ada dalam bucket list-mu, Tuty?
What things you want to do before you ... die?
Sepertinya yang kubayangkan hanyalah ... bersenang-senang, walau bukan semacam terjun payung atau kebut-kebutan. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi ...euh...belly dancer? Bagaimana rasanya menyanyi sampai tubuhmu ringan, ekspansif, merinding, bahkan... plong? Pasti menyenangkan juga bisa menari ngremo, memainkan rampak kendang, juga bermain drama seperti dulu bersama teman-teman sekolah...

Lalu angan-anganku melayang pada sebuah taman bermain, dilengkapi dengan kolam, rumah pohon dan perpustakaan mungil. Anak-anak berdatangan, entah untuk sekedar bermain, menyepi, membaca buku, dan mengerjakan pe-er.  Ada dapur kecil untuk eksperimen memasak di sebuah ruang serba guna, juga panggung kecil dan properti buatan sendiri untuk mendongeng.  Bagian terbaik dalam gambaran ini adalah....ternyata ada aku di antara semua kesibukan itu ! (Maunya!) Yah, siapa tahu ada malaikat yang sedang lewat yang sudi mengamini harapan konyol ini. Siapa tahu keberuntunganku masih ada, yaitu ketika dulu aku mimpi punya rumah yang disukai burung, dan sekarang beberapa perkutut liar dan tekukur liar malah membangun sarang di halaman rumahku.

Bersenang-senang? Woi, banyak orang susah di dunia ini, dan sekarang kau hanya memikirkan kesenangan ?
Entahlah. Aku sedang berpikir, jangan-jangan susah itu merupakan pilihan. Jadi kalau memang kita bisa memilih, mengapa bukan bersenang-senang saja? Lebih-lebih bersenang-senang itu tidak selalu mudah, ...euh..., setidaknya begitu pengalamanku. Jadi kalau susah dan senang itu sama-sulitnya, mengapa tidak bersulit-sulit dalam kesenangan aja? (Nah, kalau kalimat muter-muter ini mulai muncul, percayalah, ini salah satu kesenanganku juga. Dan kalau kalimat muter bisa bikin kalian bingung, tambah besar saja kesenanganku!)

Halo? Kenapa mendongeng?
Yah, karena sejarah perkenalan itu seringkali lucu. Pada mulanya dongeng adalah pelarian bagi orang-orang yang tidak puas, tempat dimana engkau bisa sembunyi di dunia ciptaan yang penuh sihir dan kebaikan yang selalu menang. Lama-lama engkau menyukai drama dan intrik-intriknya.  Engkau mulai mengagumi martir, tokoh yang bangkit dari kekalahan, juga tokoh cerdik yang penuh strategi, sekalipun dia antagonis. Selanjutnya engkau tertarik pada tokoh tidak sempurna -macam kita-kita ini- yang dengan gagah berani mengatasi kegelapan batinnya sendiri. Tidak lama lagi engkau akan mulai menaruh perhatian pada tokoh kikuk yang selalu canggung dalam usahanya untuk 'fit in' dengan lingkungannya. Bahkan tokoh yang sial, dangkal, atau sembronopun bisa jadi amat menarik, berkat kemasan cerita yang menggemaskan! Inilah awal dari kesukaanmu pada cerita, proses kreatifnya, dan tentu saja pada para penciptanya !

Tapi ...seperti yang sudah kukatakan, sejarah perkenalan memang banyak lucunya.
Engkau mengira mendongeng adalah tentang segala hal yang bukan dirimu, atau setidaknya sedikit sajalah yang mengandung dirimu. Padahal makin lama engkau akan melihat bahwa ...engkaulah yang hidup dalam dongeng itu. Pada suatu hari engkau adalah itik yang buruk rupa, dan kehadiranmu ditolak oleh para kucing karena engkau tak bisa bergulung dan mendengkur seperti mereka. Engkau lalu menjadi Mulan yang terpaksa menyamar menjadi laki-laki, karena perempuan pada masa itu tak boleh bicara, dan perempuan yang tanpa sengaja menjadi pahlawan itu sama jahatnya dengan seorang kriminal. Atau engkau tumbuh menjadi Midas, tapi sentuhan emasmu ternyata merupakan sentuhan yang mematikan (persahabatan, misalnya). Atau jangan-jangan engkau adalah singa muda Kovu dalam Lion King yang terpaksa 'menanggung kaluputan' (istilah Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah) karena dosa warisan, atau bahkan dosa titipan yang sering menimpa para negarawan kita.

Ya, engkau bisa melihat dirimu dalam berbagai kisah-kisah itu. Andai saja kita boleh berharap untuk memerankan Merlin, Arthur, atau Bima, bahkan Bisma dalam kisah pewayangan. Bisakah kita menolak peran Mordred yang mengkhianati Arthur yang telah membesarkannya ? Bisakah kita membebaskan diri dari peran Karna, sang kesatria yang terluka itu? Sebagian diriku berkata: "Tidak tahu". Karena untuk kesuksesan cerita, pemeran antagonis itu perlu dimainkan oleh pemeran terbaik, dan efek paling dramatis hanya mungkin terjadi jika pemeran terbaik itu dimainkan oleh ...orang-orang yang kau cintai. Tapi bagian lain dari diriku berkata: "Bisa !" Engkau hanya perlu menjaga jarak dari segalanya ! Mainkan saja bagianmu, toh dunia ini cuma panggung sandiwara. Tak ada gunanya memaki Karna, karena siapa tahu engkau juga tokoh antagonis seperti itu dalam kisah versi orang lain. Juga tak ada gunanya menyumpahi Mordred, karena di balik kostum gelapnya itu ada ...saudaramu...

Jadi tampaknya engkau perlu mengalami semua peran itu, lebih-lebih jika engkau seorang pendongeng.  Engkau harus merasakan semua rasa nano-nanonya, karena tugasmu adalah membuat perasaan itu believable bagi audiensmu. Ini juga merupakan sebuah tahap belajar untuk memastikanmu menjadi pengendali nano-nano yang tidak enak itu, bukan sebaliknya.  Engkau belajar mengenali mengapa ada Merlin di sini, Arthur di sana, juga Mordred, naga galak, pocong, suster ngesot, bahkan ...Gayus...di mana-mana. (Ya ampun, tampaknya kita harus segera memikirkan bagaimana caranya menjadikan dogol...eh...bumbu-bumbu ini sebagai penyedap dalam versi kisah yang diperbarui.) Lagi pula, sudah lama aku curiga, bahwa Tuhan tampaknya tidak berpihak pada si baik Merlin ataupun Arthur, juga tidak antipati pada Mordred, Kurawa dan antagonis lainnya. Tuhan melindungi semuanya, termasuk buaya bodoh yang membunuhi ribuan migran (maksudku para satwa seperti zebra, wildebeast dan kijang) yang imut dan tak berdosa itu. Semua adalah alat peraga, semacam alat bantu buat para pendongeng untuk menciptakan kisah serunya sendiri.

"He saved my life", kata Edward dalam pidato pemakaman Carter, seorang 'musuh' yang juga sahabat terbaiknya dalam tiga bulan terakhir kehidupan Carter. Yang telah diselamatkan itu sudah pasti bukan umur atau durasi biologis Edward, karena Edward juga meninggal tak lama kemudian. Sesungguhnya mereka saling menyelamatkan kisah hidup masing-masing, memperbarui versinya sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya mereka bisa 'menutup mata dengan hati terbuka', demikian istilah Carter.

Jadi saudara-saudara... selamat memulai hari baru di tahun kelinci, selamat memperbarui sesuatu di tahun perdamaian ini. (Ngomong-ngomong, mereka bilang tahun ini tahun 'agak tenang', karena adanya unsur logam membawa hawa galak. Juga semacam 'tenang sejenak', karena tahun ini diapit oleh tahun-tahun galak;-)).
Semoga sukses.


*) daftar keinginan yang harus dilakukan sebelum mati

picture source: http://vicestyle.com/en/news/today/post/crocodile-bag-doll-friends

Jumat, 14 Januari 2011

Malam Terakhir Bobo


Ada dua kemungkinan mengapa rasa kehilanganmu cukup serius ketika menghadapi kematian hewan piaraan. Pertama, engkau berumur tak lebih dari sekitar 15 tahun. Kedua, namamu ... Tuty Yosenda. (It's me!) 
(Padahal... tahukah kau berapa umurnya?
Ia bahkan lebih tua dari 15 dikalikan tiga...) ;-)

Aku berumur 10 tahun ketika hewan piaraan pertamaku mati. Ada Bobi, seekor anjing tua dan sakit yang memilih pergi diam-diam ke tepi sungai di akhir hidupnya. Disusul Kukuk, seekor ayam kate yang suka dipeluk dan dibawa jalan-jalan. Belajar dari rasa kehilangan itu, aku sempat 'menjaga jarak' dengan hewan-hewan piaraan. Bahkan sebelum tanda-tanda kematian mereka semakin menguat, aku segera menyerahkannya pada Mama.
"Kutitipkan ia padamu, Ma. Terserah Mama bagaimana mengatasinya. Tapi tolong perlakukan ia sebaik-baiknya."

Itulah kenangan yang tiba-tiba muncul malam ini.

Mengapa kenangan itu muncul... sekarang?
Karena malam ini Bobo sedang melalui malam terakhirnya.

Bobo adalah seekor kelinci abu-abu yang suatu hari tiba-tiba hadir di ruang tamuku. Entah darimana ia datang, tapi kami menyambutnya dengan suka cita. Sebelum Bobo, ada Hairball, kucing hitam berbulu tebal yang juga datang entah darimana. Konon ada tetangga yang memelihara berbagai macam hewan, termasuk ular. Mungkin Hairball adalah kucing mereka yang menyelinap keluar, lalu merasa betah selama beberapa minggu di rumah kami. Ketika akhirnya ia tidak muncul lagi, kami selalu berpikir: "Mungkin ia menemukan rumah yang disukainya, atau malah sebuah rumah yang bisa ... mengurungnya." (Hal yang tak mungkin terjadi di rumahku, karena ruang yang terbuka di berbagai penjuru). Ya, sesekali kami merindukan Hairball yang tidak seperti kucing biasa. Ia tahu kapan waktunya mengajak bermain dan bermanja-manja, juga tahu kapan waktunya menjaga jarak... (It's so me!)

Kembali ke Bobo, kelinci abu-abu berhidung putih, dengan 'kaus kaki' yang juga putih itu.
Ia tak puas hanya dengan berkeliaran di halaman rumahku yang luas; ia bahkan merumput di taman tetangga. Dengan cemas kami mengamatinya melintasi sela-sela pagar rumah, takut kepolosannya akan dimanfaatkan oleh para tukang sol sepatu, tukang sayur, kucing liar dan lain-lain. Tapi anehnya, tiap sore kami mendapatinya pulang, berbaring manis di ruang makan, lalu mengejar siapa saja yang mendekat, mengendus jempol kaki kami, melompat ke pangkuan, dan hanya berhenti setelah mendapat upah wortel dan cracker kesukaannya. Esok paginya, ketika semua pintu rumah terbuka, ia berjemur santai di teras depan, bagaikan bapak-bapak yang sedang menunggu kopi dan koran pagi. Hanya pada minggu pertamanya saja ia suka main ke tetangga. Selama 2 bulan berikutnya ia ternyata memutuskan untuk menetap di rumah kami, dimana halamannya amat terbuka dan bisa dia tinggalkan sewaktu-waktu. Sungguh aneh melihat seekor kelinci yang merasa perlu memiliki aura kebebasan semacam itu ... (Just like me!)

Tapi akhirnya kepolosan dan kebebasan Bobo itu pada akhirnya terbukti menarik bahaya. Seekor kucing liar hampir berhasil melarikannya, dua kali pula! Walaupun Bobo selamat, ia sempat berubah menjadi layu dan pemurung. Sejak itu sebagian area kami beri pagar kawat. Kami bahkan memberikan pasangan padanya, seekor kelinci jantan berwarna coklat susu yang dinamai Choco. Sayangnya mereka gagal menjadi pasangan romantis, karena Bobo ternyata ..... jantan juga! Untungnya Bobo bisa bergembira setelah ada Choco. Mereka tidur dengan saling menyandarkan badan, saling mengenduskan mulut, dan berbagi wortel yang sama. Sungguh kelinci-kelinci yang menggemaskan. Mana ada kelinci yang lebih tergoda untuk masuk ke dalam rumah daripada bermain di halaman berumput?

Ya, kami memang mampu menjaga mereka dari incaran kucing liar. Tapi kami tidak dapat melindungi mereka dari penyakit ...

Kini Bobo sedang sendirian di dalam kardus; dan aku yang tak punya keberanian ini juga sedang sendirian di alam memoriku. Barangkali ini malam terakhirnya, itu sebabnya aku memutuskan untuk mengenang jejak-jejak kecilnya. Aku tidak akan lupa moncong putihnya yang imut, rasa amannya ketika berjemur di teras terbuka, dan tidur siangnya yang nyaman di atas batu di tepi kolam. Beberapa minggu lalu bahkan ada bajuku yang kusebut sebagai 'baju kelinci', yang sebenarnya merupakan baju jogging yang siap dicuci, sehingga tidak masalah jika dikotori lagi oleh seekor kelinci yang ingin dipangku. Entah kemana saja aku belakangan ini, karena ritual kelinci itu sudah lama kulupakan. Kalau saja aku tahu bahwa malam terakhirnya hari ini, barangkali beberapa hari ini aku akan membuat prioritas yang berbeda.

Bobo, engkau memang hanya seekor kelinci. Tapi engkau sendiri yang memilih datang kepada kami, dan membawa 'kehangatan lintas spesies' yang tak akan kulupakan. Engkau juga mengingatkanku tentang betapa singkatnya kehadiran kita di dunia ini. Kini engkau membuatku berbisik kepada Tuhan, sebagaimana aku dulu berbisik pada Mama setiap kali hewan kesayanganku menghadapi kematian.
"Kutitipkan ia kepadaMu, Tuhan. Terserah bagaimana Engkau melakukannya, tapi tolong perlakukan ia sebaik-baiknya."

Bobo, engkau telah membawa kenanganku kemana-mana, bahkan pada mendiang Mama.
Menjelang kepergiannya, di tengah perasaan tak berdaya itu aku hanya bisa berbisik di dalam hati:
"Mama, aku tidak akan pernah bisa membayar kebaikanmu. Aku hanya bisa berjanji: All my life, I will do anything in the best possible way".

Dan hanya beberapa saat lalu, ketika perasaan kehilangan dan helpless yang khas itu muncul lagi, kembali aku diingatkan betapa mustahilnya kita sembunyi dan lari, kecuali kepada Dia yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi dan mengambil kembali ...

"Ya Allah, demi Bobo yang kehadirannya membawa kegembiraan pada kami,
demi Bobo yang kuharap mendapatkan penjagaanMu...
I will live, work, play, speak...
and I will do all those thing in the best possible way..."

Baiklah Bobo, mungkin ini malam terakhirmu.
Tapi jejak kecilmu itu telah kuabadikan sebagai janji kepadaNya, dan akan kuupayakan sebaik-baiknya sepanjang hidupku.

Bobo, Choco dan Kaka


Rabu, 18 Agustus 2010

Kolektor Satu Koleksi


Beberapa kali aku mendengar seorang suami atau istri berkata seperti ini tentang pasangannya:
"Dulu, dia yang melakukan pendekatan pertama padaku. Aku sih menerimanya karena kasihan."

Yaiks, dia sedang membicarakan siapa sih? Kok terdengar seperti membahas barang murah yang dijajakan dengan nekad ke rumah-rumah, karena ditawarkan dengan cara biasa tidak laku?
Tentu saja sekali-sekali kita boleh menaruh kasihan pada penjaja macam begini, selama yang dimintanya cuma senilai uang receh. Tapi kalau itu koin (baca: kesempatan mendapat pasangan) kita satu-satunya, dan 'dampak ikutan'nya berlangsung seumur hidup, masa sih 'dibelanjakan' sembarangan?

Jangan-jangan itu hanya dalih.
Sebenarnya itu pilihannya juga, tapi pilihan tidak cermat yang baru disesalinya kemudian. Persoalannya, dimana kerennya orang yang tidak cermat memilih?

Andai saja dia tahu, mereka yang  salah memilih masih bisa tetap keren, yaitu ketika ia diam dan tidak mengeluh.

Ah, berapa kali aku beruntung berjumpa dengan mereka yang menutup mulut atas 'ketidakberuntungan'nya itu.
Barangkali mereka memang memerlukan pengalaman ini (membuat istilah 'salah memilih' jadi ... salah ;-)), buktinya mereka  justru tampak berkilau karena ... penderitaannya (salah juga kayaknya. Siapa tahu jauh di dalam hati mereka bahagia? Buktinya -lagi-, mereka yang kukenal dalam posisi ini seringkali tampak amat sehat dan segar seperti rambut yang baru dikrimbat! ;-))

Lucu memang. Kadang-kadang orang mengira kekerenannya akan lebih bersinar jika dia cuek atau merendahkan kekerenan orang lain. Padahal sumpah enggak! Persis seperti gadis remaja yang merasa keren ketika bisa menunjukkan ekspresi siapa-sih-elu pada cowok-cowok yang memujanya. Padahal mana mungkin tatapan siapa-sih-elu itu menunjukkan siapa-gua, kecuali sisi-sisi yang menggelikan dan ... menyedihkan?

Tapi itulah masalahnya. Orang seringkali cuma bertambah tua, tapi tidak bertambah dewasa. Era dewasa melihat keren secara berbeda. Era dewasa membuat kita dengan bangga mengaku terpikat pada 'barang bagus', dan tidak malu memburunya habis-habisan kalau perlu... Lihatlah kolektor permata, lukisan, barang antik, betapa bangga mereka pada koleksinya! Harusnya semangat kolektor inilah yang mendasari pemilihan pasangan.
(Tapi tunggu ya saudara-saudara, koleksi yang satu ini cukup satu saja! Kami tidak melayani keberatan, protes, diskusi, atau surat menyurat tentang masalah ini! ;-))

"Aku yang menemukan dia lebih dulu. Aku langsung jatuh cinta dan bertekad akan berjuang untuk mendapatkannya!" ...
Kadang ucapan ini diikuti gerutu main-main seperti: "Yaah, walaupun setelah itu aku baru tahu, dia ternyata biasa-biasa aja siih..."

IYA-LAH, kenapa tidak? Hanya barang bagus yang layak diburu seperti itu! Dan kelak, ketika waktu semakin membuktikan bahwa pasanganmu memang benar-benar sekelas 'barang bagus' itu, engkau jugalah yang akan memanen kekaguman orang, lebih-lebih rasa hormat anak-anakmu.

"Busyet, jazik... Dia tahu aja ya dimana menemukan barang bagus. Seleranya memang bagus! Gimana sih dulu ceritanya?" ;-)

Tapi bagaimana kalau si doi ternyata tidak sebagus itu? Bagaimana kalau ternyata kita yang salah memilih?
Tentang ini, busyet ... eh selamat ... engkau terpilih, kawan! Sudah jadi tugasmu untuk menemukan dimana kerennya doi kamu. Jika engkau tidak ditakdirkan melalui jalan cermat dan sabar ketika memilih, berarti kecermatan dan kesabaranmu perlu dikerahkan ketika
1. 'membuka kemasan' (dan yang aku maksud di sini SISI BATINNYA, bukan lainnya!),
2. menemukan sisi-sisi kerennya yang masih tersembunyi, lalu
3. menceritakan pada dunia dengan bangga: "Busyet, ternyata jalan keluarnya ada di konsep 'daur ulang' euy!" ... Atau katakan apa sajalah terserah. Yang penting engkau menemukan semangat kolektor, dan yang kumaksud di sini sudah pasti kolektor satu koleksi! Huh.

(Maaf saudara-saudara, jaman sekarang memang orang bisa menyumpah busyet dan macam-macam untuk menyatakan kekaguman yang besar. Maaf.)

[marriage_shoes.jpg]
"HELP ME"
picture source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicP7ryE5zGabfcFmILC2U5ZL9Otz4QZgRoLq-3OEbYWUwX-uWYf-zHMvOlB9upPd_9370hLICZR2DNgAMclS3nL1q3-HmpuclA9KxmH_Pwzq6h-cIsG-Ibi4chs1uAS2XhLpfbIxIHYkI/s1600-h/marriage_shoes.jpg

Minggu, 06 September 2009

We Need More Baby's Eyes


I didn't know exactly why so much babies born in less developed countries, as if this crazy world has not got enough problems yet :-(. On the other side, I also didn't know why I have so much faith on people with baby's eyes :-). 
But I do now.

Babies are never complicated. They smile and cry for the very simple reasons. They are interested in simple things like butterflies, swing of tree, and a spot of sunlight. Each day, every minute, even every second is always new for them. (Remind me of the eyes of enthusiastic photographers.)
Life has so many things to offer, and they seem very happy being part of that.

Babies respond to the beauty, the liveliness, the sincerity. They love intensity, especially intensity of your presence. They are naturally fearless. But when they sense atmosphere of low intensity, they will show you the inconvenience, insecure, even fear. (Even a dangerous snake is less frightening for them than low intensity!)

Babies know how to play, means that they know rules as well. If a little smile is enough to get more love, they use it frequently. If annoying cry is more effective to get attention, they cry more. But smarter and healthier babies will try to figure out a more creative way to get what they wants. This means that babies know about choice and freedom, too.

Somehow I know that we are still a baby inside, and we can always recall him / her and renew ourselves with a kind of 'baby moment'. Just like a computer : You can always go the earliest restore point, and fix any distortion you've made simply by return to the original state, that is what I call 'baby moment'.

What is 'baby moment'?
'Baby moment' is a time for remembering that you are a divine creature, since you were made exclusively by God for a single divine purpose. Everyone of you is the only one, very limited edition, but each of you is universally connected with every single thing.

'Baby moment' also retells you that once upon a time, as a baby, you were attracted to light; so you are really similar to any plants! Once you had high passionate of liveliness, too, just like bees, fishes and cats. You loved sincerity so much, as well as dogs, birds and dolphins. You also had the same vivid eyes as squirrel's or angel's in many artworks. These are few of things you may discern in your 'baby moment'. Sometimes, in a deeper state, you hear a voice inside you whispering: "If God is the Creator, so we all are His precious babies. We are different outwardly, but deep inside we are similar and interconnected babies. Difference is a good thing, because we are so smart that desperately in need of various and chalenging games." That is the baby inside you speak up!

You know, if restore point can remove any incompatible softwares from your computer, 'baby moment' can do the same thing to any incompatible values in you. Once your mind-bodily system was so harmonious with universal rules, now you can always return to that restore point, calibrate yourself by wiping your inner conflicts out. Since you are designed for universal benefit, you will know that little things such political view, nationalism, and religious preference will never slow you down as long as they are based on universal values.

So, let the baby inside you jump out and join you in this game of life. You will see that everything will be much fun and simpler. Let the baby speak out undoubtedly:
"If you smile with me (whatever your political view), you are my friend.
If you laugh and play with me (whatever your nationalism), you are my best friend.
If you share many little things with me (whatever your religious preference), you are my forever friend".
("Just don't kidding me, okay? If you don't follow the rule, or you don't know how to share, means that you ruin the game. You are on a big big trouble!" :-|)

Now I know why babies born every single minute in this chaotic world. Because we need so much baby's eyes to neutralize the unnecessarily complicated details we've put on our 'computer', I mean our world.

But actually, your baby's eyes are all we need.


Kaka's eyes


picture source: http://www.funnypics4all.com/pics/2/3/2375.jpg

Senin, 13 Juli 2009

Pay It Forward !


Apakah pendidikan?
Entah berapa lama kita menghabiskan waktu di bangku sekolah, tapi sekarang kita tidak lagi ingat berapa nomor atom kalsium, berapa keliling Bumi, berapa jenis tulang yang menyusun tubuh kita. Kita juga lupa tahun berapa Raden Wijaya turun tahta, Cut Nyak Dien ditangkap, atau Bung Karno dipenjarakan. Kita mungkin lebih ingat bagaimana membuat ekspresi wajah yang memuaskan guru (agar beliau berhenti ceramah :-)), bagaimana cara menghilang dari pelajaran olah raga, menyiasati catatan absen kelas, menyusup ke kantin atau menulis surat cinta di tengah pelajaran. (Setidaknya kita beruntung karena hal-hal ini masih teringat ;-))

Jika cuma itu yang bisa kita ingat, barangkali kita harus mengingat lebih keras, supaya tidak perlu menyangkal habis-habisan kata-kata Albert Einstein berikut ini:
"Education is that which remains, if one has forgotten everything one learned in school".
Jika pendidikan adalah sesuatu yang meninggalkan jejak yang tak terlupakan pada kita, barangkali kita bisa sepakat bahwa guru itu bisa siapa saja.

Salah satu guru saya adalah film.
Sebuah film 'Pay It Forward' misalnya, dimulai dengan mengisahkan hari pertama seorang guru kelas 7 bernama Simonet yang meminta murid-muridnya melakukan proyek kecil tentang bagaimana mengubah dunia. "Apa pendapat kalian?", tanyanya.
"It's nice"
"Stupid"
"Crazy"
"Apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti kami?"
Demikian komentar murid-murid Simonet tentang proyek tersebut. (Lucunya, semua komentar tersebut persis sama dengan komentar saya, dalam hati tentunya ;-)).
Simonet membenarkan semua komentar itu. Tapi ia lalu mengajukan pertanyaan penting:
"How about possible?"

Proyek ini menginspirasi seorang murid pendiam bernama Trevor. Ia menyusun sebuah konsep, jika seseorang berbuat kebaikan tanpa pamrih pada tiga orang, lalu tiga orang tersebut membayar kebaikan tersebut secara berantai pada tiga orang lainnya -juga tanpa pamrih-, maka dunia akan dipenuhi oleh harapan. Trevor memulainya pada seorang tunawisma pecandu narkoba. Orang asing itu diajaknya makan ke rumah, diberinya uang agar ia bisa membeli baju yang layak untuk melamar kerja. Trevor juga mencoba menjodohkan ibunya yang single parent itu dengan Simonet, agar sang ibu tidak perlu berurusan dengan ayahnya yang pemabuk dan penyiksa. Namun Trevor merasa tak ada satupun upayanya yang berhasil.

Benarkah tidak berhasil?
Tanpa disadari, aksi Trevor ini ternyata telah menjadi gerakan yang meluas, bahkan ke kota lain. Setiap orang yang disentuh Trevor melanjutkan sentuhan 'kebaikan tanpa pamrih' tersebut kepada orang asing lainnya. Gerakan tersebut bergerak tanpa menghiraukan kasta, menyebar mulai dari gelandangan, pencuri, wartawan, hingga menyentuh seorang pejabat penting. Setiap orang yang sedang merasakan kesempitan tiba-tiba mengalami semacam pembebasan ketika melakukan kebaikan tanpa pamrih pada orang asing. Memang tidak selalu mudah melakukannya. Bahkan Simonet, guru Trevor yang pertama mengusung proyek ini, dihadapkan pada pilihan berat ketika melakukannya, karena harus menghadapi kekelaman masa lalunya sendiri.

Saya tidak akan menceritakan akhir kisahnya, karena bagi yang belum menonton, menceritakannya secara lengkap itu sebuah kejahatan sekelas ... mengintip kado! :-). Saya hanya ingin menggarisbawahi sekali lagi, bahwa gagasan mengubah dan memperbaiki dunia itu memang very very stupid dan crazy. Namun walaupun seorang guru (juga kita) adalah manusia biasa, ia harus selalu berani mengajukan pertanyaan: "How about possible?" Sebab -meski kita tidak selalu tahu semua rute perjalanan, kita harus percaya bahwa hidup menyediakan banyak sekali rute-rute yang belum dibuka-. Anak-anak memiliki jiwa yang optimis dan semangat bertualang yang tinggi, mereka belum banyak diwarnai ketakutan dan kegelapan. Mereka bisa menjadi guru yang baik bagi kita dalam menemukan rute yang tak terduga itu.

"It's not about talent, but curiosity
It's not knowledge, but imagination
It's not intellect, but character
It's not success, but value".... (disarikan dari kata-kata Einstein)

Salam hormatku pada semua guru, yang tanpa lelah mengenalkan kehidupan sebagai lautan possibilities, sehingga kita tidak sudi menyerah pada jalan buntu.


Add caption

picture source:  http://findreallove.wordpress.com/2010/07/07/pay-it-forward-how-about-that/

Rabu, 11 Februari 2009

Abunawas dan Ketololan Kreatif













A Little Thought about Paradox

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana penulis novel dan pembuat film menggunakan paradoks dalam menghidupkan tokoh-tokohnya?
Dalam cerita-cerita tersebut, entah pahlawan ataupun penjahatnya sering dilukiskan sebagai sosok yang susah-payah mengarahkan segenap upaya perlawanannya justru bukan kepada musuhnya, melainkan pada sisi gelap yang ada di dalam dirinya sendiri. Kegelapan di dalam diri mereka itu penting untuk dikenali dan ditundukkan, karena pengalaman ini akan menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi kegelapan serupa ‘di luar sana’.

Jadi paradoks tampaknya bukan hanya sekedar bumbu penting dalam cerita. Paradoks bagaikan lampu yang tak hanya memberikan terang pada sebuah sisi, tapi juga menyisakan bayang-bayang gelap pada sisi kemanusiaan kita secara ... estetis. Paradoks jugalah yang membuat kita bertanya-tanya, kegelapan macam apa yang mungkin masih tersembunyi di dalam diri kita? 

"Engkau mengacau, tapi mengacau dengan cara yang sangat spesial."
"Engkau melakukan ketololan, tapi kau melakukannya dengan sangat gaya."
Siapa sangka suatu hari saya akan mencatat dialog-dialog semacam ini dari beberapa film?
Barangkali saya tidak akan pernah menyadari ada kalimat paradoks seperti itu, jika saya tidak pernah mengenal seorang ‘Abunawas’... eh teman ;-), yang sengaja mengkombinasikan kekacauan dengan ke-spesial-an, dan menyatukan kekonyolan dengan style. Sungguh aneh mendapati bahwa kesan mendalam justru terletak pada gabungan antara dua hal yang sangat bertentangan seperti itu.



Suatu hari Abunawas pergi ke pasar dan membeli sepotong daging. Di jalan pulang, ia berpapasan dengan seorang teman yang memberinya resep istimewa untuk memasak daging tersebut. Senangnya hati Abunawas! Membaca resep itu saja sudah membuatnya asyik membayangkan hidangan yang sangat lezat. 







Tak disangka, baru beberapa langkah kaki Abunawas menginjak halaman rumahnya, seekor gagak besar menyambar daging tersebut dari tangan Abunawas, lalu kabur.
"Hei, kamu pencuri!", teriak Abunawas marah.
"Kau memang punya dagingnya. Tapi tahu tidak?  Kau tidak akan menikmatinya. Karena resepnya ada padaku!"



Apakah paradoks itu?
Secara filosofis, literatur melukiskan paradoks sebagai 'pelintiran mendadak' yang memperlihatkan pada kita apa yang tadinya tersembunyi (dalam diri kita sendiri). Paradoks berpotensi untuk 'memperdaya proses berpikir kita' dengan cara memainkan ketegangan yang terjadi antara dua kerangka yang kontradiktif. Sejenak kontradiksi itu menghentikan proses berpikir linear kita. Namun terhentinya pikiran linear tersebut  justru memungkinkan kita mengalami semacam 'cognitive shift'. Cognitive shift inilah yang menyadarkan kita akan adanya rute berpikir yang lain sama sekali. Kejutan akan adanya rute berpikir lain ini seringkali terasa membebaskan, bahkan menyenangkan. Humor pada umumnya bekerja dengan memanfaatkan paradoks semacam ini.


Alkisah di mulut sebuah hutan ada sebuah rumah yang dihuni oleh sepasang saudara kembar yang tak bisa dibedakan oleh siapapun. Orang mengenal mereka sebagai pribadi-pribadi yang sangat berlawanan: yang satu selalu berkata jujur, yang lainnya selalu berbohong. Tapi mereka punya kesamaan unik -selain tampilan fisik sebagai pasangan kembar identik tentunya-, yaitu: tak suka bercakap-cakap, dan hanya mau menjawab satu pertanyaan saja. 

Suatu hari rumah si Kembar kedatangan rombongan turis. Rombongan ini ingin berekreasi ke hutan wisata, tetapi di tengah jalan mereka menemukan persimpangan yang membingungkan. Konon hutan wisata tersebut bertetangga dengan hutan liar yang dihuni hewan buas. Tak ingin keliru memasuki hutan liar, turis-turis ini memutuskan untuk bertanya pada satu-satunya penghuni kawasan hutan tersebut, yaitu si Kembar. Pemimpin rombongan sudah mendengar tentang keunikan si Kembar, terutama tentang aturan 'satu pertanyaan' itu. Itu sebabnya ia menyertakan si cerdik Abunawas dalam rombongan ini.

Abunawas mengetuk pintu rumah si Kembar. Dari kejauhan, teman-temannya dapat melihat bahwa salah seorang dari si Kembar itu -entah yang mana- membuka pintu, lalu berkata dengan tegas: "Hanya satu pertanyaan, ya!" 

Abunawas mendekatkan dirinya pada salah satu dari si Kembar itu, berbisik-bisik, dan si penghuni rumah pun menjawabnya dengan bisik-bisik pula. Percakapan bisik-bisik itu terlalu singkat, dan pintu rumah si Kembar itu tampaknya juga terlalu cepat ditutup kembali. Namun Abunawas tampak terlalu mantap untuk mengatakan pada teman-temannya bahwa 'hutan wisata ada di jalur sebelah kanan'. Tentu saja semua orang bertanya-tanya, bagaimana Abunawas bisa begitu yakin bahwa tujuan mereka benar-benar ada di jalur kanan?

"Aku yakin kita harus menempuh jalur kanan, karena orang yang kutanya tadi menunjukkan jalan sebelah kiri", jawab Abunawas.
"Bagaimana kau begitu yakin? Bukankah engkau tidak tahu si Kembar yang jujur atau pembohongkah yang tadi kau jumpai, lebih-lebih kesempatanmu hanya satu pertanyaan?",  mereka bertanya lagi.

"Sebenarnya satu pertanyaan yang bagus itu sangat cukup," jawab Abunawas.
"Aku tadi bertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku tanyakan padanya jalan mana yang menuju hutan wisata?”, kata Abunawas. Ia lalu melanjutkan:
 “Bila jalan yang benar adalah jalur kanan, dan yang kujumpai tadi adalah si Jujur, ia akan berkata "jalur kiri", karena itulah yang akan dikatakan saudaranya yang pembohong. Tapi bila ia adalah si Pembohong, ia pun akan menjawab "jalur kiri", sebagai kebalikan dari jawaban saudaranya yang jujur. Dengan begitu kita tahu bahwa jalan yang ingin ditunjukkan si Jujur adalah yang kanan."


Paradoks sering digunakan oleh para bijak dalam menyampaikan pesan-pesan spiritualnya. Kisah Abunawas ini mengingatkan kita, bahwa 'kiri dan kanan' itu saling melengkapi, bahwa pertentangan dan kontradiksi yang sering kita temukan itu hanyalah produk dari penglihatan yang tidak menyeluruh. Kiri-kanan, tinggi-rendah, benar-salah dan sebagainya itu bukanlah kutub-kutub yang saling terpisah. Mereka berhubungan, walau hubungan itu mungkin bersifat ‘eksentrik’. Saat kita berhasil menemukan koneksitas dan menyatukan kedua ‘kutub’ tersebut, sifat paradoksikalnya akan berakhir bagi kita. Mata yang tajam dan jiwa yang tenang akan menangkap-basah paradoks sebagai masalah sudut pandang belaka. Dalam ajaran Zen, tema paradoks dikemas khusus dan dikenal dengan istilah koan. Tujuan koan adalah menghentikan proses berpikir linear demi mengaktifkan proses berpikir non linear.

Pertanyaannya, apa salahnya dengan berpikir linear?
Karena berpikir linear itu mendasarkan diri pada pengukuran dan perbandingan, dua aktivitas yang paling disukai ego. Jika kita menghentikan proses berpikir linear ini, lalu mengalihkan kesempatan tersebut pada intuisi, artinya kita meninggalkan batas-batas wilayah ego sembari bergerak menuju area egoless atau selfless.  Inilah saat dimana kita memfasilitasi terjadinya cognitive shift untuk melihat hal-hal yang formless, incomparable, bahkan immeasurable
Begitulah rencananya.

Tapi area egoless dan intuitif itu tidak mudah untuk dikisahkan, malah cenderung membosankan! Bagaimana mungkin menarik minat orang untuk menuju ke sana (baca : kearifan) kalau ceritanya saja membosankan? Untuk mengatasi hal tersebut, orang lalu mulai bermain-main dengan ‘cermin paradoks’. Artinya, tonjolkan sisi ego dan pikiran linear yang suka mengukur dan membanding-bandingkan itu, lalu ‘pelintir’ sudut pandangnya sedemikian rupa. Dengan cara begitu, orang justru akan melihat sisi kebalikan yang diharapkan.  
Begitulah rencananya.


"Aku tidak bahagia, Abu. Rumah kami terlalu sempit untuk menampungku, istriku dan delapan anakku", keluh seorang teman Abunawas.
Abunawas memandanginya beberapa saat, lalu bertanya: "Kau punya domba?"
"Tidak. Tapi aku bisa membelinya", jawab si Teman dengan pandangan tidak mengerti.
"Belilah seekor, dan tempatkan dalam rumahmu", kata Abunawas.
Tanpa ragu, orang itu mematuhi Abunawas. Namun beberapa hari kemudian ia mengeluh lagi, malah ia merasa rumahnya semakin sempit.
 "Kalau begitu belilah beberapa ekor ayam. Taruh dalam rumahmu", kata Abunawas.
Si Teman tidak membantah. Namun beberapa ekor ayam ditambah seekor domba ternyata membuat rumahnya makin sesak saja.
"Kali ini peliharalah seekor anak unta dalam rumahmu", kata Abunawas ketika berjumpa lagi dengan wajah yang makin muram itu.
Namun semua saran ini tidak ada yang berhasil membawa bahagia!
"Rumahku seperti neraka, Abu. Kami tidak tahan tinggal serumah dengan hewan-hewan itu", kata si Teman.
"Kalau begitu juallah anak unta itu", kata Abunawas.

Sekian hari berlalu, Abunawas mulai melihat senyum di wajah temannya.
"Kami merasa lebih baik tanpa anak unta itu, Abu", katanya.
"Begitukah? Bagaimana kalau sekarang kau jual ayam-ayammu?", kata Abunawas.
"Kami juga merasa lebih senang tanpa ayam-ayam itu, Abu", kata si Teman dengan sumringah beberapa hari berselang.
"O ya? Berarti sekarang kau bisa menjual dombamu kalau kau mau", kata Abunawas.

Beberapa hari kemudian Abunawas mengunjungi si Teman, ia menyambutnya dengan wajah berseri-seri.
"Sekarang kami merasa bahagia karena rumah kami terasa lapang, Abu!"


Mengukur dan membanding-bandingkan, pekerjaan pikiran linear itu, sungguh merupakan sumber pertentangan dan ketegangan yang tak habis-habis. Menariknya, bagi para ‘Abunawas’, ‘sumber ketegangan’ itu terdengar sama merdunya dengan ‘sumber humor’. Malah ini merupakan sumber humor yang paling bagus!

Ya, Abunawas memang sering membuat kita tertawa. Tapi saya kira para ‘Abunawas’lah  yang  lebih banyak tertawa, bahkan mungkin terpaksa menahan tawa ketika mengamati ... kita! Siapa lagi? Kita lucu, karena sering dengan sengaja membebat diri-sendiri dengan persepsi yang membelenggu dan kebiasaan yang mekanistik. Kita kerepotan karenanya, tapi tetap saja melakukannya. Kita berkata: 'Jangan menilai buku dari sampul luarnya, jangan menilai parfum dari bentuk botolnya'. Namun kita jugalah yang selalu tergoda untuk mengoleksi berbagai sampul dan botol itu.  

Karena itu, sebuah pesan, lebih-lebih pesan kearifan, haruslah disajikan secara kreatif, demikian kata para ‘Abunawas’.. Kemas pesannya dengan menggunakan paradoks dan ‘pelintiran’. ‘Pelintir’ itu artinya membuat lompatan kecil secara tiba-tiba ke arah sudut pandang yang berlawanan. ‘Pelintiran’ ini akan membuat orang justru melihat pola yang tak terduga sama sekali, bahkan menangkap dengan jelas apa-apa yang tidak terucap dan tidak ditampilkan.
Begitulah memang rencananya ! 


Tetangga Abunawas baru pulang melancong dari negeri-negeri yang jauh. Dengan antusias, ia mengisahkan hal-hal aneh yang dilihatnya sepanjang perjalanan.
"Kau tahu", katanya pada Abunawas, "Ada sebuah negeri yang aneh. Udaranya luar biasa panas, sehingga tak seorangpun mau memakai pakaian di sana."
Sejenak Abunawas tampak terheran-heran.
"Pasti sulit", kata Abunawas dengan wajah serius, "Tanpa pakaian, bagaimana cara kita membedakan mana lelaki dan mana perempuan?"


Apa jadinya kalau dunia ini tak mengenal para ‘Abunawas’? Pasti melelahkan dan membosankan, karena tak akan ada ‘pelintiran’ yang menghasilkan humor dan kreativitas. Tanpa ‘Abunawas’, dunia akan dipenuhi ketegangan, karena orang-orang hanya mau mengakui kebenaran individualnya sendiri. Ideologi dominan menguasai, ideologi resesif menyembunyikan diri. Tapi hipotesa inipun paradoks. Karena begitu ada banyak ketegangan, akan lahir orang kreatif yang berusaha ‘memulung ketegangan’ tersebut dan memanfaatkannya. Si Kreatif ini akan bermain-main dengan ketegangan tersebut dengan menggunakan berbagai teknik ‘pelintiran’. Siapa lagi dia kalau bukan si iseng ‘Abunawas’ ?    

Di tangan para ‘Abunawas’ , paradoks dan pertentangan akan menjadi alat yang efektif untuk menunjukkan ketololan dan kelalaian manusia. Bahkan kemasan pesan ala Abunawas sering menjadi kritik yang tak hanya menghibur, juga berkesan. Tapi ingat, harus humor, bukan kritik dan nasihat! Nasihat baik jarang dibutuhkan dalam cuaca cerah. Tapi dalam cuaca buruk, orang malah terlalu panik untuk mendengarnya.


Abunawas menumpang sebuah kapal besar. Cuaca sedang cerah, tapi ia malah semangat berkisah pada penumpang lain tentang cuaca buruk di laut dan berbagai bahaya yang menyertainya. Tentu saja tak ada orang yang mendengarkan!
Tak dinyana, cuaca buruk itu benar-benar datang. Situasi sangat tak terkendali, badai besar mengombang-ambingkan dan nyaris menenggelamkan kapal. Para penumpang panik, mereka menangis, menjerit sejadi-jadinya kepada Tuhan. Berlomba-lomba mereka membuat janji akan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, jika Tuhan sudi menolong tentunya.
"Teman-teman", teriak Abunawas. "Jangan boros dengan janji-janji indah. 
Aku melihat daratan!"


Apakah artinya tertawa ?
Tawa adalah sebentuk penghargaan yang timbul karena adanya pemahaman terhadap sesuatu yang bernilai dalam diri kita. Kita mungkin melihatnya melalui peragaan ketololan dan ketidaksempurnaan yang diramu secara cerdas dan kreatif.  Tawa menunjukkan kemampuan kita menerima, bahkan menikmati hal-hal yang kurang ideal ini. Sikap tidak terlalu serius terhadap harapan dan idealisasi ini merupakan awal yang baik untuk membina kerendahan hati dan kepedulian pada orang lain. 
(Ya ampun, saya mulai serius ya?  Baiklah, saya akan memperbaikinya dengan kata-kata:
"Tertawa sajalah, guys! Enjoy your own madness. You have more than you thought!") 


Siapa yang tak kenal Abunawas, sufi cerdik yang 'nakal', namun tahu semua jawaban? Semua orang di penjuru negeri mengenalnya, termasuk Raja. Popularitas Abunawas menanjak karena ia selalu lolos dari jebakan yang dibuat oleh Raja. Ini membuat Raja semakin bernafsu untuk menjatuhkan Abunawas. Berkat dukungan dan kerja-keras para cendekiawan istana, Raja akhirnya berhasil juga mengalahkan kecerdikan Abunawas dalam sebuah kompetisi yang telah direkayasa. Abunawas kini mendekam dalam penjara, menunggu hukuman mati.

Pada hari eksekusi yang telah ditetapkan, Raja melakukan prosedur standar terhadap terpidana mati Abunawas di depan ribuan rakyatnya.
"Adakah permintaan terakhir?", tanya Raja. Ini adalah pertanyaan yang paling ditunggu-tunggu oleh Abunawas.
"Ada Yang Mulia. Perkenankan hamba memilih sendiri hukuman mati yang hamba kehendaki."
"Baiklah", jawab Raja.
"Paduka, hamba minta, bila pilihan hamba benar, hamba bersedia dihukum pancung. Tapi bila pilihan hamba salah, hamba dihukum gantung saja", kata Abunawas.
"Baiklah. Bila kau benar, pancung. Bila kau salah, gantung. Permintaanmu dikabulkan", Raja mengulangi kata-kata Abunawas sambil berusaha menahan tawa. Ternyata terali besi telah membuat kelakar Abunawas menjadi kering, demikian pikir sang Raja. 

Belum habis Raja menertawakan hal tersebut, tiba-tiba Abunawas berteriak:
"HAMBA AKAN DIHUKUM GANTUNG!"
Orang-orang terkejut, Rajapun terpana. Ia mulai mencium adanya muslihat. Tapi Raja harus bertindak hati-hati, kata-kata yang terucap tak mungkin ditarik kembali. Ribuan rakyat -yang sebagian besar merupakan pengagum Abunawas itu- mendengarkan semua pembicaraan pada hari itu. Raja tak ingin memberi kesan buruk pada rakyat.

Mendapati situasi sudah berubah menjadi agak membingungkan, Abunawas lalu menggunakan kesempatannya.
"Baginda, hamba tadi sudah memilih hukuman gantung. Jika pilihan hamba benar, hamba seharusnya dihukum pancung. Tapi di manakah letak kesalahan hamba sehingga harus dihukum pancung, padahal hamba memilih hukuman gantung?"    
  
Raja dan seluruh rakyat kini terpana. Tak ada yang menyangka Abunawas bisa saja menemukan lubang jarum pada kesempatan sekecil itu. 


Akhir kata, pasti seru memiliki mata ala Abunawas! Baginya, dunia ini tampak sempurna dengan berbagai ketidaksempurnaannya. Bahkan kata-kata cerdas pun bisa dia permainkan menjadi ... entah tolol, entah bijak, entah jenius, apa bedanya? Selama ada ketololan ... eh manusia, berarti akan selalu ada bahan-bahan humor dan paradoks ... Itu juga berarti akan selalu ada pekerjaan yang bisa dilakukan, bukan ?

Saya mungkin tidak cukup bagus mengungkapkan gambaran tentang ‘Abunawas’ yang saya kenal. Ia berada di luar gambaran baik-buruk, benar-salah, pintar-bodoh, menyenangkan-menyebalkan  dan sebagainya. Yang pasti, ketika orang memiliki mata ala ‘Abunawas’, berarti ia punya mata yang bagus dalam menikmati dan menciptakan humor. Dan ketika ia punya selera humor yang bagus, berarti ia juga punya rasa estetika yang bagus dalam hal apapun, yang membuat kehadirannya tampak bagus dan membaguskan di manapun ia berada!  

Percayalah, Anda sangat beruntung jika bisa menemukan satu saja ‘Abunawas’ dalam hidup Anda. Tapi jika Anda tidak seberuntung itu, Anda tetap bisa ‘mengundangnya’ dengan cara ... kurangi sedikitlah keseriusan Anda dalam menghadapi hidup ini. Serius! ;-).  Siapa tahu sudut pandang Anda akan terpilin sedikit, lalu cognitive shift itu terjadi, dan Anda melihat ‘sesuatu’ yang sebenarnya sudah ada di sana sekian lama...