Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2011

I Feel Pretty !

Feel stress ? Say a big NO ! 
Feel pretty instead ;-)





I feel pretty 
Oh so pretty 
I feel pretty and witty and bright 
And I pity 
Any girl who isn`t me tonight 

I feel charming 
Oh so charming 
It`s alarming how charming I feel 
And so pretty 
that I hardly can believe I`m real 

See the pretty girl in the mirror there? 
Who can that attractive girl be? 
Such a pretty face 
Such a pretty dress 
Such a pretty smile 
Such a pretty me 

I feel stunning 
And entrancing 
Feel like running 
And dancing for joy 

For I`m loved
By a pretty wonderful boy 



Somebody says you are not awesome ? Define and claim your prettiness, NOW ! ;-) 





Say outloud, show them that you really mean it !





Because you are the last one who always believe that you are pretty ...





Anything you like ? 
You can keep the video with the help of www.keepvid.com.

Kamis, 03 Februari 2011

Buaya dan Gayus Juga Ada Pelindungnya ...



Hari ini tahun kelinci sudah dimulai, saudara-saudara. Dan seperti biasa, sebuah permulaan selalu membuatku terkenang pada ...sebuah akhir.

Adalah Edward dan Carter (diperankan oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman), dua orang sahabat yang disatukan oleh kanker dan kematian yang makin mendekat.  Alih-alih menyerah pada kesakitan dan ketakberdayaan, mereka sepakat untuk membuat daftar tentang 'things to do before you die' dan bertekad untuk mewujudkannya. Dalam bucket list*)  mereka itu tercatat terjun payung, bersafari di Afrika, mendaki Himalaya, kebut-kebutan ala pembalap muda, juga ...mencium gadis tercantik di dunia. Percayalah, tak perlu ada gadis-gadis berbikini untuk menyegarkan film ini, karena aksi dua sahabat penyakitan yang sudah kakek-kakek itu cukup memikat, berkat daya hidup, pertengkaran sengit dan 'humor asam-manis' yang terserak di sana-sini.

Well, jadi apa yang ada dalam bucket list-mu, Tuty?
What things you want to do before you ... die?
Sepertinya yang kubayangkan hanyalah ... bersenang-senang, walau bukan semacam terjun payung atau kebut-kebutan. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi ...euh...belly dancer? Bagaimana rasanya menyanyi sampai tubuhmu ringan, ekspansif, merinding, bahkan... plong? Pasti menyenangkan juga bisa menari ngremo, memainkan rampak kendang, juga bermain drama seperti dulu bersama teman-teman sekolah...

Lalu angan-anganku melayang pada sebuah taman bermain, dilengkapi dengan kolam, rumah pohon dan perpustakaan mungil. Anak-anak berdatangan, entah untuk sekedar bermain, menyepi, membaca buku, dan mengerjakan pe-er.  Ada dapur kecil untuk eksperimen memasak di sebuah ruang serba guna, juga panggung kecil dan properti buatan sendiri untuk mendongeng.  Bagian terbaik dalam gambaran ini adalah....ternyata ada aku di antara semua kesibukan itu ! (Maunya!) Yah, siapa tahu ada malaikat yang sedang lewat yang sudi mengamini harapan konyol ini. Siapa tahu keberuntunganku masih ada, yaitu ketika dulu aku mimpi punya rumah yang disukai burung, dan sekarang beberapa perkutut liar dan tekukur liar malah membangun sarang di halaman rumahku.

Bersenang-senang? Woi, banyak orang susah di dunia ini, dan sekarang kau hanya memikirkan kesenangan ?
Entahlah. Aku sedang berpikir, jangan-jangan susah itu merupakan pilihan. Jadi kalau memang kita bisa memilih, mengapa bukan bersenang-senang saja? Lebih-lebih bersenang-senang itu tidak selalu mudah, ...euh..., setidaknya begitu pengalamanku. Jadi kalau susah dan senang itu sama-sulitnya, mengapa tidak bersulit-sulit dalam kesenangan aja? (Nah, kalau kalimat muter-muter ini mulai muncul, percayalah, ini salah satu kesenanganku juga. Dan kalau kalimat muter bisa bikin kalian bingung, tambah besar saja kesenanganku!)

Halo? Kenapa mendongeng?
Yah, karena sejarah perkenalan itu seringkali lucu. Pada mulanya dongeng adalah pelarian bagi orang-orang yang tidak puas, tempat dimana engkau bisa sembunyi di dunia ciptaan yang penuh sihir dan kebaikan yang selalu menang. Lama-lama engkau menyukai drama dan intrik-intriknya.  Engkau mulai mengagumi martir, tokoh yang bangkit dari kekalahan, juga tokoh cerdik yang penuh strategi, sekalipun dia antagonis. Selanjutnya engkau tertarik pada tokoh tidak sempurna -macam kita-kita ini- yang dengan gagah berani mengatasi kegelapan batinnya sendiri. Tidak lama lagi engkau akan mulai menaruh perhatian pada tokoh kikuk yang selalu canggung dalam usahanya untuk 'fit in' dengan lingkungannya. Bahkan tokoh yang sial, dangkal, atau sembronopun bisa jadi amat menarik, berkat kemasan cerita yang menggemaskan! Inilah awal dari kesukaanmu pada cerita, proses kreatifnya, dan tentu saja pada para penciptanya !

Tapi ...seperti yang sudah kukatakan, sejarah perkenalan memang banyak lucunya.
Engkau mengira mendongeng adalah tentang segala hal yang bukan dirimu, atau setidaknya sedikit sajalah yang mengandung dirimu. Padahal makin lama engkau akan melihat bahwa ...engkaulah yang hidup dalam dongeng itu. Pada suatu hari engkau adalah itik yang buruk rupa, dan kehadiranmu ditolak oleh para kucing karena engkau tak bisa bergulung dan mendengkur seperti mereka. Engkau lalu menjadi Mulan yang terpaksa menyamar menjadi laki-laki, karena perempuan pada masa itu tak boleh bicara, dan perempuan yang tanpa sengaja menjadi pahlawan itu sama jahatnya dengan seorang kriminal. Atau engkau tumbuh menjadi Midas, tapi sentuhan emasmu ternyata merupakan sentuhan yang mematikan (persahabatan, misalnya). Atau jangan-jangan engkau adalah singa muda Kovu dalam Lion King yang terpaksa 'menanggung kaluputan' (istilah Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah) karena dosa warisan, atau bahkan dosa titipan yang sering menimpa para negarawan kita.

Ya, engkau bisa melihat dirimu dalam berbagai kisah-kisah itu. Andai saja kita boleh berharap untuk memerankan Merlin, Arthur, atau Bima, bahkan Bisma dalam kisah pewayangan. Bisakah kita menolak peran Mordred yang mengkhianati Arthur yang telah membesarkannya ? Bisakah kita membebaskan diri dari peran Karna, sang kesatria yang terluka itu? Sebagian diriku berkata: "Tidak tahu". Karena untuk kesuksesan cerita, pemeran antagonis itu perlu dimainkan oleh pemeran terbaik, dan efek paling dramatis hanya mungkin terjadi jika pemeran terbaik itu dimainkan oleh ...orang-orang yang kau cintai. Tapi bagian lain dari diriku berkata: "Bisa !" Engkau hanya perlu menjaga jarak dari segalanya ! Mainkan saja bagianmu, toh dunia ini cuma panggung sandiwara. Tak ada gunanya memaki Karna, karena siapa tahu engkau juga tokoh antagonis seperti itu dalam kisah versi orang lain. Juga tak ada gunanya menyumpahi Mordred, karena di balik kostum gelapnya itu ada ...saudaramu...

Jadi tampaknya engkau perlu mengalami semua peran itu, lebih-lebih jika engkau seorang pendongeng.  Engkau harus merasakan semua rasa nano-nanonya, karena tugasmu adalah membuat perasaan itu believable bagi audiensmu. Ini juga merupakan sebuah tahap belajar untuk memastikanmu menjadi pengendali nano-nano yang tidak enak itu, bukan sebaliknya.  Engkau belajar mengenali mengapa ada Merlin di sini, Arthur di sana, juga Mordred, naga galak, pocong, suster ngesot, bahkan ...Gayus...di mana-mana. (Ya ampun, tampaknya kita harus segera memikirkan bagaimana caranya menjadikan dogol...eh...bumbu-bumbu ini sebagai penyedap dalam versi kisah yang diperbarui.) Lagi pula, sudah lama aku curiga, bahwa Tuhan tampaknya tidak berpihak pada si baik Merlin ataupun Arthur, juga tidak antipati pada Mordred, Kurawa dan antagonis lainnya. Tuhan melindungi semuanya, termasuk buaya bodoh yang membunuhi ribuan migran (maksudku para satwa seperti zebra, wildebeast dan kijang) yang imut dan tak berdosa itu. Semua adalah alat peraga, semacam alat bantu buat para pendongeng untuk menciptakan kisah serunya sendiri.

"He saved my life", kata Edward dalam pidato pemakaman Carter, seorang 'musuh' yang juga sahabat terbaiknya dalam tiga bulan terakhir kehidupan Carter. Yang telah diselamatkan itu sudah pasti bukan umur atau durasi biologis Edward, karena Edward juga meninggal tak lama kemudian. Sesungguhnya mereka saling menyelamatkan kisah hidup masing-masing, memperbarui versinya sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya mereka bisa 'menutup mata dengan hati terbuka', demikian istilah Carter.

Jadi saudara-saudara... selamat memulai hari baru di tahun kelinci, selamat memperbarui sesuatu di tahun perdamaian ini. (Ngomong-ngomong, mereka bilang tahun ini tahun 'agak tenang', karena adanya unsur logam membawa hawa galak. Juga semacam 'tenang sejenak', karena tahun ini diapit oleh tahun-tahun galak;-)).
Semoga sukses.


*) daftar keinginan yang harus dilakukan sebelum mati

picture source: http://vicestyle.com/en/news/today/post/crocodile-bag-doll-friends

Senin, 13 Juli 2009

Pay It Forward !


Apakah pendidikan?
Entah berapa lama kita menghabiskan waktu di bangku sekolah, tapi sekarang kita tidak lagi ingat berapa nomor atom kalsium, berapa keliling Bumi, berapa jenis tulang yang menyusun tubuh kita. Kita juga lupa tahun berapa Raden Wijaya turun tahta, Cut Nyak Dien ditangkap, atau Bung Karno dipenjarakan. Kita mungkin lebih ingat bagaimana membuat ekspresi wajah yang memuaskan guru (agar beliau berhenti ceramah :-)), bagaimana cara menghilang dari pelajaran olah raga, menyiasati catatan absen kelas, menyusup ke kantin atau menulis surat cinta di tengah pelajaran. (Setidaknya kita beruntung karena hal-hal ini masih teringat ;-))

Jika cuma itu yang bisa kita ingat, barangkali kita harus mengingat lebih keras, supaya tidak perlu menyangkal habis-habisan kata-kata Albert Einstein berikut ini:
"Education is that which remains, if one has forgotten everything one learned in school".
Jika pendidikan adalah sesuatu yang meninggalkan jejak yang tak terlupakan pada kita, barangkali kita bisa sepakat bahwa guru itu bisa siapa saja.

Salah satu guru saya adalah film.
Sebuah film 'Pay It Forward' misalnya, dimulai dengan mengisahkan hari pertama seorang guru kelas 7 bernama Simonet yang meminta murid-muridnya melakukan proyek kecil tentang bagaimana mengubah dunia. "Apa pendapat kalian?", tanyanya.
"It's nice"
"Stupid"
"Crazy"
"Apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti kami?"
Demikian komentar murid-murid Simonet tentang proyek tersebut. (Lucunya, semua komentar tersebut persis sama dengan komentar saya, dalam hati tentunya ;-)).
Simonet membenarkan semua komentar itu. Tapi ia lalu mengajukan pertanyaan penting:
"How about possible?"

Proyek ini menginspirasi seorang murid pendiam bernama Trevor. Ia menyusun sebuah konsep, jika seseorang berbuat kebaikan tanpa pamrih pada tiga orang, lalu tiga orang tersebut membayar kebaikan tersebut secara berantai pada tiga orang lainnya -juga tanpa pamrih-, maka dunia akan dipenuhi oleh harapan. Trevor memulainya pada seorang tunawisma pecandu narkoba. Orang asing itu diajaknya makan ke rumah, diberinya uang agar ia bisa membeli baju yang layak untuk melamar kerja. Trevor juga mencoba menjodohkan ibunya yang single parent itu dengan Simonet, agar sang ibu tidak perlu berurusan dengan ayahnya yang pemabuk dan penyiksa. Namun Trevor merasa tak ada satupun upayanya yang berhasil.

Benarkah tidak berhasil?
Tanpa disadari, aksi Trevor ini ternyata telah menjadi gerakan yang meluas, bahkan ke kota lain. Setiap orang yang disentuh Trevor melanjutkan sentuhan 'kebaikan tanpa pamrih' tersebut kepada orang asing lainnya. Gerakan tersebut bergerak tanpa menghiraukan kasta, menyebar mulai dari gelandangan, pencuri, wartawan, hingga menyentuh seorang pejabat penting. Setiap orang yang sedang merasakan kesempitan tiba-tiba mengalami semacam pembebasan ketika melakukan kebaikan tanpa pamrih pada orang asing. Memang tidak selalu mudah melakukannya. Bahkan Simonet, guru Trevor yang pertama mengusung proyek ini, dihadapkan pada pilihan berat ketika melakukannya, karena harus menghadapi kekelaman masa lalunya sendiri.

Saya tidak akan menceritakan akhir kisahnya, karena bagi yang belum menonton, menceritakannya secara lengkap itu sebuah kejahatan sekelas ... mengintip kado! :-). Saya hanya ingin menggarisbawahi sekali lagi, bahwa gagasan mengubah dan memperbaiki dunia itu memang very very stupid dan crazy. Namun walaupun seorang guru (juga kita) adalah manusia biasa, ia harus selalu berani mengajukan pertanyaan: "How about possible?" Sebab -meski kita tidak selalu tahu semua rute perjalanan, kita harus percaya bahwa hidup menyediakan banyak sekali rute-rute yang belum dibuka-. Anak-anak memiliki jiwa yang optimis dan semangat bertualang yang tinggi, mereka belum banyak diwarnai ketakutan dan kegelapan. Mereka bisa menjadi guru yang baik bagi kita dalam menemukan rute yang tak terduga itu.

"It's not about talent, but curiosity
It's not knowledge, but imagination
It's not intellect, but character
It's not success, but value".... (disarikan dari kata-kata Einstein)

Salam hormatku pada semua guru, yang tanpa lelah mengenalkan kehidupan sebagai lautan possibilities, sehingga kita tidak sudi menyerah pada jalan buntu.


Add caption

picture source:  http://findreallove.wordpress.com/2010/07/07/pay-it-forward-how-about-that/