Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Tell him/her how you feel right now, but not to a married or a late person ;-)

10th grade 

As I sat there in English class, I stared at the girl next to me. She was my so called "best friend". I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn't notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before and handed them to her. She said "thanks" and gave me a kiss on the cheek. I wanted to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

11th grade 


The phone rang. On the other end, it was her. She was in tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn't want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said "thanks" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Senior year 


The day before prom she walked to my locker. My date is sick" she said; he's not going to go well, I didn't have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together just as "best friends". So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step. I stared at her as she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she isn't think of me like that, and I know it. Then she said "I had the best time, thanks!" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why. 

Graduation Day 


A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated like an angel up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine, but she didn't notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as I hugged her. Then she lifted her head from my shoulder and said, "you're my best friend, thanks" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

A Few Years Later 


Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married now. I watched her say "I do" and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn't see me like that, and I knew it. But before she drove away, she came to me and said "you came!". She said "thanks" and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Funeral


Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my "best friend". At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read: I stare at him wishing he was mine, but he doesn't notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don't want to be just friends, I love him but I'm just too shy, and I don't know why. I wish he would tell me he loved me! 



'I wish I did too...', I thought to my self. And I cried. 





quoted from http://www.boardofwisdom.com/default.asp?topic=1006



Kids Kissing Doll


picture source : http://www.vincentchow.net/images/funny-kiss.jpg

Rabu, 18 Agustus 2010

Kolektor Satu Koleksi


Beberapa kali aku mendengar seorang suami atau istri berkata seperti ini tentang pasangannya:
"Dulu, dia yang melakukan pendekatan pertama padaku. Aku sih menerimanya karena kasihan."

Yaiks, dia sedang membicarakan siapa sih? Kok terdengar seperti membahas barang murah yang dijajakan dengan nekad ke rumah-rumah, karena ditawarkan dengan cara biasa tidak laku?
Tentu saja sekali-sekali kita boleh menaruh kasihan pada penjaja macam begini, selama yang dimintanya cuma senilai uang receh. Tapi kalau itu koin (baca: kesempatan mendapat pasangan) kita satu-satunya, dan 'dampak ikutan'nya berlangsung seumur hidup, masa sih 'dibelanjakan' sembarangan?

Jangan-jangan itu hanya dalih.
Sebenarnya itu pilihannya juga, tapi pilihan tidak cermat yang baru disesalinya kemudian. Persoalannya, dimana kerennya orang yang tidak cermat memilih?

Andai saja dia tahu, mereka yang  salah memilih masih bisa tetap keren, yaitu ketika ia diam dan tidak mengeluh.

Ah, berapa kali aku beruntung berjumpa dengan mereka yang menutup mulut atas 'ketidakberuntungan'nya itu.
Barangkali mereka memang memerlukan pengalaman ini (membuat istilah 'salah memilih' jadi ... salah ;-)), buktinya mereka  justru tampak berkilau karena ... penderitaannya (salah juga kayaknya. Siapa tahu jauh di dalam hati mereka bahagia? Buktinya -lagi-, mereka yang kukenal dalam posisi ini seringkali tampak amat sehat dan segar seperti rambut yang baru dikrimbat! ;-))

Lucu memang. Kadang-kadang orang mengira kekerenannya akan lebih bersinar jika dia cuek atau merendahkan kekerenan orang lain. Padahal sumpah enggak! Persis seperti gadis remaja yang merasa keren ketika bisa menunjukkan ekspresi siapa-sih-elu pada cowok-cowok yang memujanya. Padahal mana mungkin tatapan siapa-sih-elu itu menunjukkan siapa-gua, kecuali sisi-sisi yang menggelikan dan ... menyedihkan?

Tapi itulah masalahnya. Orang seringkali cuma bertambah tua, tapi tidak bertambah dewasa. Era dewasa melihat keren secara berbeda. Era dewasa membuat kita dengan bangga mengaku terpikat pada 'barang bagus', dan tidak malu memburunya habis-habisan kalau perlu... Lihatlah kolektor permata, lukisan, barang antik, betapa bangga mereka pada koleksinya! Harusnya semangat kolektor inilah yang mendasari pemilihan pasangan.
(Tapi tunggu ya saudara-saudara, koleksi yang satu ini cukup satu saja! Kami tidak melayani keberatan, protes, diskusi, atau surat menyurat tentang masalah ini! ;-))

"Aku yang menemukan dia lebih dulu. Aku langsung jatuh cinta dan bertekad akan berjuang untuk mendapatkannya!" ...
Kadang ucapan ini diikuti gerutu main-main seperti: "Yaah, walaupun setelah itu aku baru tahu, dia ternyata biasa-biasa aja siih..."

IYA-LAH, kenapa tidak? Hanya barang bagus yang layak diburu seperti itu! Dan kelak, ketika waktu semakin membuktikan bahwa pasanganmu memang benar-benar sekelas 'barang bagus' itu, engkau jugalah yang akan memanen kekaguman orang, lebih-lebih rasa hormat anak-anakmu.

"Busyet, jazik... Dia tahu aja ya dimana menemukan barang bagus. Seleranya memang bagus! Gimana sih dulu ceritanya?" ;-)

Tapi bagaimana kalau si doi ternyata tidak sebagus itu? Bagaimana kalau ternyata kita yang salah memilih?
Tentang ini, busyet ... eh selamat ... engkau terpilih, kawan! Sudah jadi tugasmu untuk menemukan dimana kerennya doi kamu. Jika engkau tidak ditakdirkan melalui jalan cermat dan sabar ketika memilih, berarti kecermatan dan kesabaranmu perlu dikerahkan ketika
1. 'membuka kemasan' (dan yang aku maksud di sini SISI BATINNYA, bukan lainnya!),
2. menemukan sisi-sisi kerennya yang masih tersembunyi, lalu
3. menceritakan pada dunia dengan bangga: "Busyet, ternyata jalan keluarnya ada di konsep 'daur ulang' euy!" ... Atau katakan apa sajalah terserah. Yang penting engkau menemukan semangat kolektor, dan yang kumaksud di sini sudah pasti kolektor satu koleksi! Huh.

(Maaf saudara-saudara, jaman sekarang memang orang bisa menyumpah busyet dan macam-macam untuk menyatakan kekaguman yang besar. Maaf.)

[marriage_shoes.jpg]
"HELP ME"
picture source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicP7ryE5zGabfcFmILC2U5ZL9Otz4QZgRoLq-3OEbYWUwX-uWYf-zHMvOlB9upPd_9370hLICZR2DNgAMclS3nL1q3-HmpuclA9KxmH_Pwzq6h-cIsG-Ibi4chs1uAS2XhLpfbIxIHYkI/s1600-h/marriage_shoes.jpg

Minggu, 08 Agustus 2010

Keluarkan Doktermu !


Bulan puasa sebentar lagi, entah untuk yang ke sekian puluh kalinya dalam hidup kita. 
Di akhir Ramadhan biasanya ada yang berkurang dan bertambah, sayangnya yang berkurang biasanya cuma berat badan (itupun sementara), dan yang bertambah juga cuma ... belanjaan. Padahal ritual puasa sebulan sering menaikkan alis bule-bule yang kukenal: "Wow, a whole month for collective training again? You people must be very very self-determined!"

"Bulan puasa sebentar lagi, dan sebaiknya engkau punya rencana", begitu 'dokter' dalam diriku berkata. Maka kuundang 'burung-burung kecilku' ke kamarku, dan kukatakan pada mereka tentang pentingnya menjadi diri yang berbeda di akhir puasa.

Dinda: "Apakah rencana ini merupakan harga yang harus kami bayar karena kami baru mendapat komputer baru?"
Dimas: "Apakah menurut Bunda adanya komputer baru membuat kami tidak produktif?"
Aku: "No, I'm just doing my job. I'm parenting. Memangnya berapa kali Bunda parenting tahun ini?"
Dimas: "Seingatku sih baru sekali"
(Baguslah. Parenting yang baik kukira tidak perlu terlihat sebagai parenting. Malah parenting lewat bodor-bodoran seringkali lebih sampai pesannya.)

Lalu aku cerita tentang perlunya membongkar dan membangun ulang, menyingkirkan yang tidak relevan dan menguatkan yang kita perlukan. Dan yang kumaksud akan dibongkar dan dibangun ulang itu bukan rak buku atau taman, melainkan ... kebiasaan.

Tak perlu mandi atau sarapan dulu untuk melakukannya. Pagi-pagi, dalam suasana ringan, aku minta anak-anakku menyusun daftar sepuluh kebiasaan yang merepotkan, karena 'mudah dimulai dan susah dihentikan'.
Lucunya, Dimas tidak menemukan satupun.
"Ada banyak hal yang memang mudah kumulai, misalnya main game. Tapi rasanya gak ada tuh yang sulit dihentikan!", katanya.
"Tapi kamu tidak pernah lepas dari komputer", kataku sambil mengenang betapa dia sudah menjadi pengguna aktif komputer sejak balita.
"Iya Bun. Dimas memang begitu. Kalau kita minta dia memberikan sesuatu yang membuatnya asyik, dia selalu menyerahkannya segera dan tanpa beban...", kata Dinda.
(Bagus sekali! Wow, darimana datangnya sifat seperti itu? Rasanya aku sama sekali tidak begitu.)

Dalam daftar Kaka ada hape, fesbuk, bermalas-malasan, main dengan teman, dan nonton televisi tanpa rencana.
Aku: "Kaka, kamu pasiennya, kamu juga dokternya. Coba sekarang keluarkan doktermu dan katakan sesuatu pada pasienmu."
Dokter Kaka: "Kaka, maneh teh goblog pisan jadi jalmi!" (Kaka, kamu tuh goblok banget jadi orang!)
Aku: "Halah, coba dokter Dinda dan dokter Dimas angkat suara. Katakan sesuatu pada pasiennya Kaka."

Dokter Dinda: "Kalau soal fesbuk, hentikan dululah sementara. Buat apa berinteraksi dengan orang yang sama tapi pakai semua media? Cukup pakai hape saja dulu. Kalau kamu sudah tahu rasanya berhenti sebentar, kamu akan lebih bisa mengendalikan kalau nanti memutuskan balik lagi. Itu pengalamanku."

Dokter Dimas: "Tentang bermalas-malasan, aku juga begitu kok. Kita memang suka perlu warming-up sebentar. Tapi kalau Kaka warming-upnya lamaaa banget, nanti tahu-tahu waktu dia untuk ngerjain tugas udah mepet."

"Kalau tentang teman, apa susahnya bilang 'maaf, aku sedang tidak ingin main'? Teman-temanku tahu aku orang macam apa, mereka tidak akan mengajakku ke mall atau ke tempat game. Tapi kalau bikin proyek presentasi, bikin video atau main kubik, pasti ke aku datangnya," kata dokter Dimas lagi.

Dokter Dinda: "Iya, Ka. Teman-teman kamu tuh posesif. Kalau teman udah sehati mah gak ada rasa takut ngecewain, apalagi ditinggalin."

Seperti biasa, Kaka hanya tersenyum-senyum mendapat kritik dari adik-adiknya.
(Baguslah. Menjadi kakak yang bodor dan berperan bloon memang keahliannya. Aku seringkali tidak tahu, apakah sikap bloonnya itu asli atau sedang role-playing, sebab dia juga suka teater seperti ... ibunya.)

Selesai membahas kebiasaan buruk masing-masing sambil mendengar macam-macam opini dokter, berikutnya adalah sesi membangun kebiasaan produktif.
"Apakah yang sulit dimulai, tapi terlalu mudah dihentikan oleh alasan-alasan sepele?", tanyaku.
Rata-rata menyebutkan kesulitan menyangkut belajar teratur di rumah, sholat tepat waktu, dan olah raga. Mandi sukarela, membereskan kamar sukarela, tidur secara terencana (maksudnya tidak tergeletak dan tertidur di mana-mana), bahkan menyiapkan susu untuk diri-sendiri adalah hal-hal kecil yang masih dianggap sulit.

Aku: "Kaka, katakan pada pasienmu tentang sholat tepat waktu."
Dokter Kaka : "Woi, Kaka, sadar atuh"
Aku: "Apakah pasienmu bisa menerima pesan seperti itu?"
Dokter Kaka: "Enggak sih..."
Aku: "Kenapa?"
Dokter Kaka: "Dia bosan dinasihati terus."
Aku: "Bagaimana perasaan dokternya?"
Dokter Kaka: "Dia juga bosan karena gak didengerin.":-)
Aku: "Jadi gimana dong?"
Kaka: "Gatauuu."
Aku: "Ya udah. Gimana kalau mulai bulan puasa ini si dokter dan si pasien memperbarui hubungan? Belajar jadi teman aja, dekatkan jarak satu sama lain."

Selanjutnya aku gunakan kesempatan ini untuk menyampaikan pentingnya merencanakan alokasi waktu. Hidup adalah masa audisi untuk kepentingan placement di masa depan, dan yang kita miliki hanyalah durasi, bukan waktu. Jadi sehari dengan lima waktu sholat bagaikan seumur hidup dengan lima babak kehidupan.

Lima babak?
Sebentar, garis besar audisi biasanya hanya terdiri dari tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi dan penutup. Jika ada lima pembagian waktu, barangkali ada dua babak ekstra bagi kita untuk melakukan koreksi dan penyesuaian, entah berupa 'babak pendahuluan edisi revisi' atau 'babak isi versi diperbarui'.
Tentu saja kita tak bisa apa-apa terhadap babak penutup, ia tak mungkin direvisi dan diperbarui secara langsung (kecuali oleh mereka yang beruntung ... bangkit dari kuburnya ;-( )
Yang penting, ketika kita merevisi dan memperbarui babak-babak awal, sebenarnya revisi dan pembaruan itu akan meliputi babak penutupnya juga.

Kembali ke rapat persiapan bongkar-pasang .....
Aku: "Apa alasanmu memasukkan olah raga di catatanmu Dinda? Bukan karena ingin menyenangkan Bunda kan?"
Dinda: "Bukan. Karena aku tahu aku sering merasa lemah. Dan aku tahu kalau sedang bugar, aku lebih optimis dan lebih semangat. Cuma masih belum tahu bagaimana menyemangati diri untuk memulainya."

Aku: "Yah, kita memang mahluk aneh. Kita tahu olah raga itu penting, juga sholat. Lucunya, kita musti nyolong-nyolong waktu untuk melakukannya. Pertanyaannya, bagaimana sih cara menyemangati diri? Apa kata dokter Dimas?
Dimas: "Olah ragaku cukup di sekolah. Apalagi aku juga pendaki gunung. Kalau di rumah... kan Buya suka ngajak pingpong atau naik sepeda?"

Aku: "Hmm, jadi kamu cukup mengandalkan Buya untuk membuat langkah pertamanya ya. Sekarang dokter Bunda yang bicara.
Motivasi memang harus selalu diperbarui, apalagi kalau motivasi lama sudah tidak mempan. Misalnya, bayangin aja kamu ini dipinjami badan, dan badan ini sudah membantumu habis-habisan. Kalau suatu saat pinjaman harus dikembalikan, masa sih dikembalikannya dalam keadaan berantakan?"
(Hasilnya cukup bagus ternyata, karena membuat mereka termangu-mangu.)

"Tapi kenapa kamu gak suka mandi, Dimas? Apa kata doktermu sendiri?", tanyaku sambil memecah atmosfer serius sebelumnya.
Dimas: "Dokterku sih setuju-setuju aja. Menurut dia boleh-boleh aja kok."
Aku: "Apa iya doktermu yang bicara? Doktermu sakit kali..."
Kaka: "Gara-gara menyuruh dia mandi, dia membenciku seharian, Bun. Doktermu tuh yang gak bener." :-)
Dimas: "Enggak ah, dokterku baik-baik aja kok. Dia cuma eksentrik."
Aku: "Woi, eksentrik itu banyak macamnya, tapi kenapa milih gak suka mandi? Apa pernah kau pikirkan, kenapa kamu ditakdirkan jadi bungsu dengan dua kakak perempuan?"
Kaka: "Supaya ada yang bilang kamu bau dan musti keramas! Supaya ada yang mencetin komedo kamu!"
Dinda: "Ya supaya kamu diurus sama kita-kita! Bayangin Bun, dia masih belum bisa bikin susu sendiri!" :-)

Dimas: "Aku sebel sama orang yang mementingkan penampilan. Aku sebel karena Kaka suka lama di kamar mandi. Terserah aku mau naruh selotip, kawat, peniti, entah di kacamata atau bajuku. Aku jadi ogah minum susu, karena Dinda bilang susu buatanku tawar."

Aku: "Woi Dimas, orang punya alasan macam-macam untuk memperhatikan penampilan, untuk mandi lama, untuk suka susu manis; tapi masa iya alasan dan selera mereka yang tidak kamu setujui membuat kamu kehilangan selera terhadap penampilan, mandi dan susu tawarmu? Woi, itu kan artinya kamu menaruh tombol pengendali dirimu di luar, sehingga tombol kamu bisa dipencet orang seenak perutnya? Tentukan alasan dan seleramu sendiri dong."

Barangkali ini adalah salah satu diskusi kami yang paling produktif dan penuh gelak tawa. Ada rencana mereka untuk 'bikin teh buat Bunda". Wow, kalau sampai ditulis, pasti ini rencana yang sangat berat! ;-)
"Aku memang gak tahu cara bikin teh. Airnya panas atau dingin, aku gak tau," kata Dimas.

Ada juga rencana Kaka untuk mengajari Dimas main piano, membuat Dimas sendiri heran dan bertanya: "Why me?"
"Karena kamu hebat Dimas. Kamu sering tidak tahu kalau kamu hebat. Ingat nggak aku ajari kamu lagu Yesterday sekali, besoknya kamu sudah tampil dengan bagus di sekolahmu?", jawab Kaka.
(Yang dimaksud lagu Yesterday ini pasti lagu aslinya. Soalnya di rumah kami ada versi pelesetan ala Buya yang dicampur dengan lagu Betawi lama, dimana syairnya (juga nadanya) berubah jadi: "Yesterday, mangga pisang jambu...." ;-) )

Namun yang paling menarik adalah catatan mereka bertiga untuk mengajak nonton bioskop saudara angkat mereka, Hana. Adanya Hana dalam catatan itu sudah merupakan hal yang amat menyenangkan, karena setidaknya Hana sudah diperhitungkan sebagai bagian penting dari mereka.
Aku: "Kenapa menonton bersama Hana masih merupakan hal yang sulit dimulai bagi kalian?"
Kaka: "Kami sangat suka kalau pergi bertiga aja. Diskusi di antara kami itu seringkali bodoh tapi penting. Kalau ada Hana, kami jadi kurang bebas, dan dia juga tidak bisa mengimbangi."

Aku: "Ya, Bunda tahu rasanya. Tapi kalian tidak akan selamanya bertiga. Kalian harus mengenal pergaulan yang berbeda. Percayalah, kadang-kadang teman setara itu harus kita bentuk sejak awal, dan Hana memiliki bahan yang memadai. Dia memang dibesarkan di desa, tapi dia suka membaca dan belajar kan?"

Aku lalu menambahkan: "Lakukan role-playing. Perankan diri yang bodoh, supaya Hana berpikir: 'Oooh, ternyata Kaka ada bodoh- bodohnya juga seperti aku!'. Dengan begitu dia merasa tak berjarak denganmu. Ajukan juga umpan-umpan pertanyaan di antara kalian yang bisa dia ikuti, sekalipun jawabannya sudah kalian ketahui. Begitulah cara parenting kami selama ini, yaitu: role-playing. Kalian tidak menyadarinya, kan?"
"Belakangan aku tahu Bunda-Buya menggunakan cara itu", kata Dimas sambil mengangguk-angguk.

Begitulah, rencana sudah ditetapkan.
Saatnya melatih self-discipline sepanjang Ramadhan, sehingga bulan-bulan berikutnya kami berharap bisa mencapai self-governance yang lebih baik.
Adanya rencana ini membuat 'collective training days' itu kami tunggu-tunggu dengan debar-debar yang menyenangkan. Lebih-lebih para role player, juga dokter-dokter pribadi kami -termasuk yang eksentrik dan bodor, pasti akan ikut berjaga selama 24 jam sehari!
Jadi .... "Siaaaap!"

..........

Selamat menyambut puasa.


Tuty Yosenda

Kaka: 20 tahun, belajar psikologi di Maranatha Bandung
Dinda: 18 tahun, belajar biologi di ITB, Bandung
Dimas: 16 tahun, belajar video, pidato dan manjat gunung di SMA Muthahhari, Bandung
Hana: 17 tahun, belajar bahasa Inggris, literasi, komputer dan memasak, di Bandung


Minggu, 06 September 2009

We Need More Baby's Eyes


I didn't know exactly why so much babies born in less developed countries, as if this crazy world has not got enough problems yet :-(. On the other side, I also didn't know why I have so much faith on people with baby's eyes :-). 
But I do now.

Babies are never complicated. They smile and cry for the very simple reasons. They are interested in simple things like butterflies, swing of tree, and a spot of sunlight. Each day, every minute, even every second is always new for them. (Remind me of the eyes of enthusiastic photographers.)
Life has so many things to offer, and they seem very happy being part of that.

Babies respond to the beauty, the liveliness, the sincerity. They love intensity, especially intensity of your presence. They are naturally fearless. But when they sense atmosphere of low intensity, they will show you the inconvenience, insecure, even fear. (Even a dangerous snake is less frightening for them than low intensity!)

Babies know how to play, means that they know rules as well. If a little smile is enough to get more love, they use it frequently. If annoying cry is more effective to get attention, they cry more. But smarter and healthier babies will try to figure out a more creative way to get what they wants. This means that babies know about choice and freedom, too.

Somehow I know that we are still a baby inside, and we can always recall him / her and renew ourselves with a kind of 'baby moment'. Just like a computer : You can always go the earliest restore point, and fix any distortion you've made simply by return to the original state, that is what I call 'baby moment'.

What is 'baby moment'?
'Baby moment' is a time for remembering that you are a divine creature, since you were made exclusively by God for a single divine purpose. Everyone of you is the only one, very limited edition, but each of you is universally connected with every single thing.

'Baby moment' also retells you that once upon a time, as a baby, you were attracted to light; so you are really similar to any plants! Once you had high passionate of liveliness, too, just like bees, fishes and cats. You loved sincerity so much, as well as dogs, birds and dolphins. You also had the same vivid eyes as squirrel's or angel's in many artworks. These are few of things you may discern in your 'baby moment'. Sometimes, in a deeper state, you hear a voice inside you whispering: "If God is the Creator, so we all are His precious babies. We are different outwardly, but deep inside we are similar and interconnected babies. Difference is a good thing, because we are so smart that desperately in need of various and chalenging games." That is the baby inside you speak up!

You know, if restore point can remove any incompatible softwares from your computer, 'baby moment' can do the same thing to any incompatible values in you. Once your mind-bodily system was so harmonious with universal rules, now you can always return to that restore point, calibrate yourself by wiping your inner conflicts out. Since you are designed for universal benefit, you will know that little things such political view, nationalism, and religious preference will never slow you down as long as they are based on universal values.

So, let the baby inside you jump out and join you in this game of life. You will see that everything will be much fun and simpler. Let the baby speak out undoubtedly:
"If you smile with me (whatever your political view), you are my friend.
If you laugh and play with me (whatever your nationalism), you are my best friend.
If you share many little things with me (whatever your religious preference), you are my forever friend".
("Just don't kidding me, okay? If you don't follow the rule, or you don't know how to share, means that you ruin the game. You are on a big big trouble!" :-|)

Now I know why babies born every single minute in this chaotic world. Because we need so much baby's eyes to neutralize the unnecessarily complicated details we've put on our 'computer', I mean our world.

But actually, your baby's eyes are all we need.


Kaka's eyes


picture source: http://www.funnypics4all.com/pics/2/3/2375.jpg

Kamis, 21 Mei 2009

Gretha Zahar, ‘Penyihir’ yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan

Gunakan pengamatan berskala seluler terhadap mekanisme tubuh Anda, Anda akan melihat organ, jaringan, protein, sel dan sebagainya. Gunakan pengamatan berskala atomik, Anda akan menemukan bahwa di balik organ, jaringan dan sel itu terdapat atom karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan sebagainya. Selanjutnya gunakan pengamatan berskala sub-atomik, skala yang jauh lebih kecil daripada atomik. Apa yang akan Anda temukan? Ternyata di balik atom-atom penyusun tubuh Anda itu terdapat interplay yang tak putus di antara proton, netron dan elektron. Anda berada dalam ranah yang banyak dibicarakan oleh fisika modern, nuclear science, bahkan nanobiology. Demikian pelajaran yang saya peroleh dari Gretha Zahar, seorang pakar nuclear science yang mengelola klinik di beberapa kota dan Lembaga Peluruhan Radikal Bebas di Malang.

Tidak mudah memahami penjelasan bu Gretha. Fisika modern, kimia nuklir, ditambah dengan nanoteknologi, ketika disatukan dalam uraian, menjadi menu yang lumayan berat untuk dicerna. Namun ternyata dalam praktek semuanya sangat sederhana. Obat segala penyakit itu ternyata ada di dapur kita sendiri: ada telur, kopi, garam, bawang, air kelapa, fermipan … Hanya satu obat yang tidak biasa: rokok! Rokok terapi ini diramu secara khusus, asapnya ditiupkan ke lubang telinga, hidung, dan mulut pasien melalui sebuah pipa. Pasien dibaringkan di atas papan tembaga, dibalur dengan 7 macam ramuan, sementara terapi asap dilakukan di sela-sela proses tersebut. Sungguh aneh melihat sebuah penemuan canggih dipraktekkan dengan begitu mudah dan sederhana, sesederhana pengobatan ala kampung jaman baheula.

“Alam sudah menyediakan semuanya”, kata Profesor Dr. Sutiman Bambang Sumitro, seorang pakar biologi sel dari Universitas Brawijaya Malang yang menjadi mitra kerja bu Gretha. “Orang cenderung mempercayai peralatan canggih, padahal peralatan itu bisa jadi digunakan untuk menutupi konsep yang tidak canggih. Sedangkan Alam selama ini bekerja berdasarkan konsep yang canggih. Telur, garam, bawang, kopi, tembakau dan sebagainya itu adalah hal-hal biasa yang ternyata merupakan peluruh radikal bebas yang luar biasa”, tambahnya.

Mengapa telur mentah?
“Karena telur mentah merupakan protein hidup. Telur mentah itu internally driven. Putihnya menangkap radikal bebas dalam tubuh kita, termasuk merkuri yang juga internally driven. Sedangkan merah telur mengandung bahan stem cell“, kata bu Gretha. “Tidak perlu takut pada bakteri salmonela atau virus yang mungkin ada pada telur mentah”, kata bu Gretha seolah membaca pikiran saya. “Karena dalam kopi ada karbon yang berfungsi seperti norit yang melumpuhkan racun.”

Tidak perlu takut pada bakteri dan virus?
Sungguh menyenangkan membayangkan dunia yang sedang disiapkan oleh bu Gretha dan kawan-kawan ini ! “Bakteri dan virus, semua itu hanyalah protein hidup yang mengalami mutagenik. Mereka menamainya bakteri, jika ukurannya 10 pangkat minus 5. Tapi ketika ukurannya nano, mereka menamainya virus”, kata bu Gretha sambil mempermainkan rokoknya. “Yang lebih penting untuk diselidiki adalah penyebab mutagenik protein tersebut, yaitu radikal bebas, terutama merkuri. Merkuri mempunyai 13 macam panjang gelombang yang bisa digunakan untuk mengacaukan dan menyesatkan codon dalam pembentukan protein (codon adalah kode genetik yang menentukan sintesa protein, penulis). Merkuri dalam tubuh akan menarik lebih banyak merkuri. Hebatnya, merkuri punya energi dinamika yang cukup besar untuk membantunya melakukan transisi elektron, sebuah cara baginya untuk ‘menyamar’ menjadi partikel lain”, katanya sambil meluruskan kakinya di lantai.

Sekarang menjadi jelas mengapa selama ini berbagai penelitian belum bisa ‘menangkap basah’ merkuri dan perilakunya di tubuh kita. “Merkuri hanya perlu tambahan 1 elektron untuk menjadi logam berat seperti thalium, atau 2 ekstra elektron untuk menjadi timbal. Padahal elektron-elektron itu tersedia dalam jumlah besar di Alam sebagai akibat dari melimpahnya jumlah radikal bebas “, tambahnya lagi.

“Jadi penyembuhan segala macam penyakit pada dasarnya hanyalah memperbaiki kemampuan tubuh dalam mengendalikan polutan. Detoksifikasi adalah yang paling relevan. Jika kita tahu caranya, tak ada penyakit yang perlu ditakuti, termasuk flu burung, flu babi dan sebagainya”, kata bu Gretha. Ia lalu memamerkan foto-foto klinis dan eksperimennya yang sangat menakjubkan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kanker dan autisme merupakan persoalan sederhana di matanya, apalagi penyakit stroke, jantung dan sebagainya. Bu Gretha dan klinik-kliniknya telah membantu ratusan orang yang sudah tidak bisa ditangani oleh rumah sakit. Namun gaya hidupnya sangat bersahaja. Tempat duduk favoritnya adalah lantai, kosmetiknya hanyalah ramuan yang terbuat dari putih telur dan air kelapa. Tanda-tanda kemewahan ‘hanya’ terlihat pada matanya yang selalu polos namun energik, tubuh yang elastis, berotot, bugar, serta kulit wajah yang bersih. Tidurnya sedikit, namun ia masih mampu push-up 25 kali dan berenang 90 menit tanpa jeda di usianya yang menjelang 70. (Kami sering menggodanya dengan sebutan ‘nenek-nenek aneh’, karena bukannya membekali diri dengan minyak angin dan syal penghangat seperti nenek pada umumnya, ia malah membawa rokok dan berbagai ramuan kemana-mana untuk mengurus siapapun yang dijumpainya di jalan dan sedang bermasalah ! :-)

Restless and fearless, itulah yang saya lihat pada bu Gretha. Dalam pencariannya yang tak kenal menyerah, ia sempat mengalami berbagai hinaan dan pengusiran oleh ilmuwan-ilmuwan lain. Namun dengan gigih ia terus berjuang, salah satunya dengan mencoba membuktikan hipotesanya lewat pengabdian di sebuah rumah sakit swasta dan beberapa panti asuhan. Dukungan dari kalangan universitas dan dari kalangan medis akhirnya mengalir. Tapi ia belum puas juga. “Alam sedang sedih karena banyak dimanipulasi oleh manusia”, katanya suatu hari, dengan nada sedih yang tak berhasil disembunyikan. “Kita mengambil terlalu banyak dari Alam, ini menyulitkan Alam dalam melakukan recycling terhadap beratus-ratus ton radikal bebas yang berkeliaran di sekitar kita. Sementara itu hutan dan lautan yang menjadi mesin pendaur-ulang utama itu mengalami kerusakan yang amat parah,” katanya lagi. Pak Sutiman lalu menambahkan: ”Alam sekarang mengalami kesulitan dalam melakukan siklus berbagai material. Manusia sebagai bagian dari Alam pun mengalaminya.” Lalu, setelah menyalakan rokok yang entah ke sekian, pak Sutiman -yang sebelumnya sama sekali bukan perokok itu- melanjutkan: ”Kerusakan Alam kini menempatkan manusia pada posisi degeneratif, artinya manusia menghadapi ancaman kegagalan dalam menjalankan kemampuan normal. Itu sebabnya penyakit manusia bergeser ke arah difficult diseases.

Tapi bu Gretha tidak pernah membiarkan dirinya sedih berlama-lama. Intuisinya yang liar dan tajam membuatnya segera sibuk memikirkan gagasan-gagasan baru. Alur pikirannya melompat-lompat dengan lincah, tak banyak orang yang memiliki kemampuan untuk mengimbanginya. Ketika pak Sutiman pada suatu kesempatan resmi menguraikan pemikiran bu Gretha dalam bahasa yang lebih runut, bu Gretha tercengang-cengang sendiri: “Benarkah itu hasil pemikiranku? Aku tidak mengira akan seindah itu…”, katanya dengan ekspresi yang lucu.

Keindahan itu juga terlihat dalam proses pengobatan ala bu Gretha. Sebelumnya, dalam sebuah eksperimen, bu Gretha mencoba melepaskan radikal bebas dari sebuah protein buatan. Radikal bebas itu baru terlepas sesudah dihantam dengan beban sebesar … 8 ton ! Namun ketika protein yang mengandung radikal bebas itu ditepuknya dengan ‘mengaktifkan rasa kasih-sayang’, radikal bebas itupun terlepas. Artinya, beban 8 ton itu kurang lebih setara dengan tepukan penuh kasih-sayang ! Itu sebabnya pelayanan penuh kasih-sayang menjadi bagian yang paling penting dalam terapi yang dikembangkannya. Itu sebabnya pula, di papan tembaga, pasien anak-anak dibaringkan di atas tubuh ayah atau ibunya, agar terjadi ikatan batin yang lebih dalam di antara keduanya. Ikatan kasih-sayang ini sangat berguna untuk mendorong kesembuhan. Dalam klinik-klinik asuhan bu Gretha dan kawan-kawan selalu ditekankan pentingnya partisipasi keluarga dalam proses penyembuhan. Kesembuhan seorang pasien dipengaruhi oleh kesehatan anggota keluarganya. “Bahkan menyehatkan diri sendiri itu sama dengan menyehatkan lingkungan”, demikian kata pak Sutiman.

Keindahan yang lain juga diperlihatkan di akhir terapi. Berbagai ramuan yang sudah dibalurkan ke tubuh pasien itu ditampung, sebagian dibiarkan tersisa di papan tembaga, sebagian diteteskan pada cawan petri. Hasilnya sungguh menakjubkan! Hanya beberapa menit dijemur di bawah matahari, kita akan segera melihat kristal yang bisa mengisahkan ’siapa kita’. Jika Anda sehat, pada papan tembaga maupun cawan petri itu akan terlihat lukisan kristal yang penuh, simetris, fraktal, dan memiliki pola yang sangat indah. “Tubuh manusia itu merupakan pabrik nano material yang paling hebat. Ketika cairan nano dari tubuh kita memperlihatkan keteraturan dan keindahan, itu menunjukkan bahwa tubuh kita memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan keteraturan dan harmoni”, demikian pak Sutiman menjelaskan sambil mengepulkan asap rokoknya.

Dua tahun terakhir ini, rokok merupakan bagian yang sangat penting dalam klinik binaan bu Gretha dan kawan-kawan -yang sebelumnya tidak satupun yang perokok. Rokok yang dinamai Divine Kretek itu mengandung asam amino, diproses sedemikian rupa sehingga bebas dari radikal bebas, dan menghasilkan partikel yang berukuran jauh lebih kecil. “Dengan terapi asap, radikal bebas yang keluar dari tubuh akan berukuran kecil, sehingga pasien tidak perlu mengalami siksaan seperti luka-luka yang besar dan basah atau aroma tubuh yang sangat mengganggu”, kata bu Gretha. Proses penyembuhan menjadi jauh lebih cepat, bahkan selama proses pengobatan pasien bisa tetap menjalani kehidupan normal tanpa diet khusus, asalkan ia bersedia secara teratur ….. merokok!

Sungguh sebuah paradoks yang mengesankan. Limbah ramuan balur bisa menjadi kristal yang bercerita, dan rokok yang sekarang sedang dihujat telah dimuliakan menjadi obat! “Tidak ada yang baru pada tembakau dan nikotin. Ratusan tahun yang lalu, bangsa Indian telah menggunakannya sebagai obat; mereka bahkan menamai tembakau sebagai tanaman dewa. Nikotin juga telah lama diteliti dan diakui mengandung banyak manfaat, bahkan ia dijuluki ‘gold nicotine’. Unsur kimianya yang berjumlah 11000 macam itu membuatnya sangat istimewa. Jika dilihat secara parsial, unsur-unsur kimia itu memperlihatkan ‘kejahatan’nya. Tapi jika partikel-partikel tersebut dilihat secara utuh, rokok memperlihatkan adanya potensi untuk menyelenggarakan keteraturan dan harmoni. Rokok tidak membahayakan generasi terdahulu, juga tidak generasi sekarang. Yang berbahaya itu radikal bebasnya, dan radikal bebas ada dimana-mana”, jelas pak Sutiman panjang lebar. Bu Gretha lalu menimpali: “Dengan menggunakan cetakan nano pada filter, densitas elektron meningkat, sehingga kandungan merkuri pada tembakau akan siap melepaskan elektron. Dan ketika merkuri kehilangan 1 elektron, ia bukan lagi merkuri. Ia merupakan partikel emas atau aurum, tepatnya artificial aurum.” Saya jadi ingat sebuah artikel tentang partikel aurum. Dalam ukuran nano, ia sudah lama dikenal sebagai nanomaterial yang efektif membunuh sel kanker tanpa merusak sel lainnya.

Bu Gretha lalu menunjukkan selembar kertas yang ia katakan sebagai ‘penemuan yang sangat mengagumkan’, yaitu tabel periodik kimia, tabel ciptaan Mendeleyev yang pernah kita pelajari di SMA. Ia menjelaskan, bahwa merkuri dengan nomor atom 80 bisa dengan mudah ‘menyamar’ menjadi thalium dan timbal hanya dengan tambahan 1-2 elektron. Merkuri juga bisa berubah menjadi artificial aurum atau emas -yang bernomor atom 79- hanya dengan mendonasikan elektronnya … Pernyataan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pembuktian. Bersama teman-teman, saya menguji pengaruh Divine Kretek terhadap aura. Dengan menggunakan aurameter milik bu Gretha, saya dan teman-teman menyaksikan, bahwa terapi asap lambat-laun akan membentuk aura berwarna emas di tubuh kita. “Sungguh terobosan yang hebat”, kata Kang Aas Rukasa, seorang guru senam pernafasan dan meditasi. “Aura emas hanya mungkin diperoleh melalui latihan pernafasan yang intensif yang disertai pengerasan tubuh. Aura emas mencerminkan kematangan di chakra jantung, chakra yang berhubungan dengan kasih sayang, kelenturan, keterbukaan, dan respon seni”, kata Kang Aas. “Aura emas merupakan jembatan tercepat antara tubuh dan pikiran; artinya seseorang dengan aura emas akan memiliki kecerdasan tubuh dalam menerjemahkan dimensi pikiran. Aura emas bukan hanya mencerminkan kesehatan yang prima dan kelenturan tubuh dalam menghadapi gangguan, aura emas ini juga berbicara tentang potensi untuk menyembuhkan orang lain”, demikian ia menambahkan.

Saya jadi teringat kisah-kisah klasik tentang para alkemis yang selalu terobsesi untuk mengubah apapun menjadi emas. Tidak disangka bahwa rahasia alchemy itu tak jauh-jauh dari kita, dan tampaknya tidak terlalu sulit bagi kita untuk mempelajarinya. Siapa tahu kita bisa menjadi the alchemy berikutnya?

Dasar-dasar bagi tumbuhnya future science itu telah disiapkan oleh bu Gretha dan kawan-kawan. Ini adalah sains multidisiplin yang tak hanya yang holistik, tapi juga unik, karena membawa dan mewujudkan mimpi terdalam umat manusia sejak masa klasik. Saya dan teman-teman tidak henti-hentinya kagum melihat seorang ilmuwan yang sekaligus ‘tabib’, seorang yang sesaat berbicara tentang ilmu-ilmu canggih dalam bahasa campuran Indonesia dan Inggris, lalu ia membalur dan meniupi pasien dengan bertelanjang kaki, tanpa sarung tangan dan penutup hidung. Di waktu pagi, senja dan tengah malam, ‘tabib’ ini menyempatkan dirinya membalur diri dengan kopi, ramuan kelapa dan putih telur, atau garam. Di waktu senggangnya ia hanya memerlukan lantai untuk sekedar membaringkan tubuhnya, sambil meniupkan asap Divine Kretek ke dalam telinganya. “Lantai baik untuk kesehatan, karena Bumi menetralisir kelebihan arus listrik yang menyebabkan adanya ritme tidak harmonis di tubuh kita. Garam bagus untuk menangkap radikal bebas yang ada di tubuh kita. Pengobatan terbaik adalah menggunakan tangan telanjang, bukan tangan bersarung, apalagi mesin, karena… tahukah engkau, bahwa tubuh manusia adalah cetakan nano terhebat di dunia?”, begitu katanya sambil tersenyum, seolah membenarkan ritual para tabib tradisional kita yang sudah lama menggunakan garam, telur, tangan telanjang, juga lantai dalam praktek pengobatan mereka. Sungguh sangat sesuai dengan namanya: Gretha artinya mutiara, Zahar itu brightness, revealed, grounded.

“Ibu kok seperti penyihir, ya…”
“Atau seperti Merlin…”
“Atau Nostradamus, Leonardo da Vinci…”
Begitu komentar teman-teman setiap berjumpa dengan ibu Gretha Zahar yang tak habis-habisnya mengherankan kami.